Perayaan untuk Diri Sendiri

Menanti dicintai adalah kesia-siaan. Ah, tapi jangan kecil hati dulu. Percayalah, ini catatan yang akan menghangatkan hatimu.

Seorang teman mengirimi saya kartu pos dari Florence, Italia. Kartu pos itu bersisian dengan sebotol anggur merah Spanyol yang saya beli untuk menemani saya mengerjakan tesis. Sore tadi, saya membeli seikat bunga tulip jingga yang belum mekar. Sebuah perayaan kecil seakan akan digelar.

Kapan terakhir kali kamu mencintai diri sendiri? Seseorang yang asing bertanya itu hampir dua bulan yang lalu. Tentu saya tidak bisa menjawab, karena saya tidak tahu bagaimana persisnya kita bisa mencintai diri sendiri.

Mari kita akui. Kita pernah patah. Oh, patah sepertinya menyederhanakan perasaanmu. Kita hancur, oleh apapun. Kita pernah merasa gagal dan merasa tidak layak mencoba lagi. Beberapa dari kita mungkin menyakiti diri sendiri, merasa sakit fisik akan meredakan sakit psikis. Beberapa dari kita melarikan diri, menenggelamkan diri dalam apapun. Kita menunggu jawaban, tapi percayalah, semesta menyimpan lebih banyak tanya daripada jawaban.

Kabar buruknya: tidak ada juru selamat yang tiba-tiba muncul di depan rumahmu. Kabar baiknya: coba bercermin, there you see someone who can save you.

Hal-hal sederhana menyelamatkan saya. Saya percaya bulan tetap bersinar terang walaupun tertutup awan. Saya percaya matahari tetap menggantung walaupun langit mendung. Saya percaya tidak pernah ada yang konstan, semua bergerak, semua mengalir, semua berpindah, termasuk suka juga duka. Bahkan air yang kau minum pun tak lama keluar menjadi urin.

Hal-hal sederhana menyelamatkan saya. Saya punya ritual menyesap sebatang rokok pagi hari di taman dekat rumah. Nikotin, angin dingin yang menusuk, gemerisik daun, dan cericit burung semua hadir. Semua hadir di momen itu. Semua hadir merayakan diri masing-masing. Hal paling sulit dilakukan manusia masa kini mungkin “hadir”, karena pikiran kita terlalu sibuk dan media sosial selalu lebih menarik daripada burung dan dedaunan.

Hal-hal sederhana menyelamatkan saya. Tapi hal-hal sederhana tidak akan menyelamatkanmu kalau kau tidak ingin diselamatkan. Coba perlahan-lahan lepaskan peganganmu. Berjalanlah dan amati saja semua, riuh dan sunyi. Amati saja dan hadirlah di sana. Hadirlah di sana dan semua dunia hadir bersamamu.

Akhir-akhir ini saya menghadiahi diri saya sendiri dengan beberapa hal. Saya membeli sepeda baru yang begitu nyaman. Saking nyamannya saya merasa bersepeda di udara dingin ibarat rekreasi ketimbang kerja keras. Saya membeli headphone yang nyaman di telinga.

Saya membeli bunga. Seorang teman mengatakan evolusi primata sangat bergantung pada tanaman bunga. Artinya, (kalau kita percaya umat manusia berasal dari primata), peradaban manusia ‘berutang’ pada bunga! Saya mulai melihat bunga dengan mata dan kekaguman yang berbeda.

Hal-hal sederhana, teman, hal-hal sederhana. Itu yang menyelamatkanmu. Ah, ya kalau kau masih menanti cinta pun dicintai, mungkin kau harus belajar mencintai dirimu sendiri. Seorang guru yang bijak pernah berujar, “jika cangkirmu kosong, bagaimana kau bisa memberi air pada orang lain?”

Coba isi cangkirmu. Belilah cermin. Rayakan setiap momen. Lepaskan pergi. Hadir, hadir, hadirlah bersama semua semesta yang melingkupimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s