Sesekali Menulis Kisah Semacam Cinta

Dingin membangunkanmu pukul 7 pagi. Kau tengok telepon genggam. Suhu empat derajat. Kau menggeliat malas dan membuka jendela. Langit biru di atas sana. Kacamu berembun. Di luar dedaunan menari digoyang angin. Musim dingin bulan Juni, bahkan para pecinta paling tangguh pun menyerah di hadapanmu.

Apakah Sapardi merindu setengah mati ketika menulis Hujan Bulan Juni?
Kau menengok teleponmu, berkali-kali. Kau berharap ada pesan dari seseorang yang kau tunggu kabarnya. Tapi kau hanya menemui layar kosong dan pesan-pesan elektronik yang kau tebak berisi kabar dari milis yang kau ikuti atau promosi dari ritel online. Kau tahu itu tak penting tapi kau tetap menyediakan waktu untuk membacanya hanya untuk menghapusnya.

Bagaimana rindu bisa dirahasiakan?
Kau menemukan namanya di mana-mana. Kau membayangkan wajahnya di mana-mana. Kau, di tengah segala kesibukan dan tanggungjawab yang kau emban, masih memberi ruang untuk memikirkannya. Kepalamu sudah penuh, tapi kau masih memberi jalan baginya untuk berlari-lari. Hatimu hampir meledak, tapi kau masih menyisakan tempat untuknya. Seseorang mungkin menyusup dalam tidurmu semalam dan memprogram otak dan hatimu hingga tiap lima detik sosoknya muncul seperti iklan di internet.

Bagaimana menghapus keraguan?
Kau tahu ada yang tumbuh di dalam dirimu. Bahkan ketika otakmu selalu punya alasan untuk menyangkalnya, hatimu selalu lebih cepat bereaksi. Kau merasakan sensasi aneh entah di mana. Kadang dadamu terasa sakit, tentu bukan karena masalah pernafasan. Kau tiba-tiba memiliki dorongan untuk melakukan hal-hal di luar akal sehatmu. Kau seakan berjalan di atas awan, ringan dan bahagia. Tapi ada hari-hari ketika awan begitu kelabu dan kau menangis di tengah hujan tanpa sebab. Ah, kadang kau tahu sebabnya hanya terlalu sedih untuk mengakuinya. Kadang kau menangis ketika menelepon tukang listrik, kadang kau menangis di kantor agen perumahan, kadang kau menangis sambil menyusun artikel politik. Kau mulai menangis di tempat-tempat asing di tengah orang-orang asing. Kau mulai berpikir bahwa kau pecinta yang gila.

Bagaimana membiarkan semua diserap akar pohon bunga?
Kau membiarkan dirimu jatuh tanpa jaring pengaman. Kau sudah jatuh, tak mungkin bisa jatuh lebih dalam lagi. Kau sudah di kedalaman yang tak terhingga. Kau teringat hujan yang arif yang membiarkan dirinya diserap akar-akar. Tapi, air yang terlalu banyak akan membuat bunga mati. Perasaan yang berlimpah mungkin membikin kau dan dia yang kau beri perasaan itu pun lelah. Beri, lupakan dan biarkan semesta bekerja. Kau menunggu semesta bekerja dalam kecemasan. Semesta memberimu musim dingin di bulan Juni dan hujan yang tak tentu jadwal.

Musim dingin baru tiba. Tulang-tulangmu sakit. Jemari tanganmu membeku. Berlapis-lapis pakaian tak juga menghangatkanmu. Kau mengutuk penghangat ruangan yang tak berfungsi. Di luar tak lagi kau dengar burung-burung bernyanyi. Pohon rimbun tempat mereka biasa bertengger sudah menjadi ranting kering. Kau menengok layar telepon genggam. Masih tak ada kabar. Lima detik lagi kau akan membayangkannya. Lima detik lagi dia akan berlari di kepalamu. Lima detik lagi hatimu siap meledak.

Di musim dingin bulan Juni, bahkan para pecinta paling tangguhpun akhirnya menyerah.

Advertisements

One thought on “Sesekali Menulis Kisah Semacam Cinta

  1. jarvis terlalu pandai untuk mencatat dan merekam banyak hal. sepertinya lagu ini ia buat untuk melatari tulisanmu ini. hope u dont mind visiting the link and listening to this tune 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s