Kisah Sunyi dari Padang Gurun dan Batu-batu

Perjalanan terbaik mungkin akan selalu sulit dituliskan dan dicerna. Menuliskan lawatan saya ke Australia Barat, terutama ke Kalbarri National Park, adalah pengingat sederhana bahwa dari tempat paling sunyi dan ditinggalkan, kisah-kisah boleh bermula.

Aplikasi pengukur suhu di telepon genggam mencatat angka 45 derajat Celcius. Udara terasa bak dinding tebal dan padat tanpa pori-pori, tak menyisakan sedikit ruang untuk angin. Di hadapan saya, daratan kering berwarna coklat kemerahan menghadang. Pohon-pohon membungkuk tanpa daun. Hening. Semua seakan berpadu dalam diam. Pikiran saya melayang ke neraka di kepala Dante.

Langkah kaki kian berat. Nafas memburu. Saya merasa jantung saya berpacu lebih cepat, mengalahkan derunya ketika saya lari dua putaran di lintasan dekat rumah. Tidak ada yang buka mulut, seakan setiap satu huruf yang meloncat akan mencuri lapisan oksigen. “Pendaki mati di sini”, begitu papan peringatan di pintu masuk Kalbarri National Park. “Panas membunuh”. Begitu pesan yang lain. Ah, para pecandu bahaya. Kalaupun ada jalan kembali, itu tak pernah jadi opsi.

 ***

 “Apa yang bisa dilihat di Kalbarri, hanya batu-batu, kan?” tanya seorang kenalan, dua minggu setelah perjalanan. Kami tak sengaja berjumpa di pusat kota Melbourne. Dia menonton tenis. Saya menunggu dua kawan lama. Suara tram dan kerumunan manusia meredam percakapan kami. Mereka yang terlalu lama hidup dalam kebisingan, bisakah mereka belajar mendengar dan menikmati kesunyian?

 ***

Batu-batu. Ya, daratan itu hanya batu dalam berbagai formasi. Kalbarri National Park adalah daratan penuh ngarai dan daerah aliran sungai yang mengering. Kering, luas, dan sunyi. Lanskap ini mengingatkan saya pada To The Roof!Let’s Jump and Fall, karya grup musik post-rock Beware of Safety. Dari tempat yang seakan-seakan tanpa kehidupan, sebuah kehidupan dengan ekosistemnya yang khas sebenarnya telah berada di sini jutaan tahun. Jejak fosil arthropoda berusia 430 juta tahun –yang saya visualisasikan berbentuk lobster raksasa- tertera di bebatuan. Ya ampun, betapa purba bumi ini.

Sepanjang perjalanan, saya seakan selalu diingatkan tentang betapa tuanya semesta. Di Nambung National Park, kami singgah di The Pinnacles, padang gurun dengan ribuan batu yang seakan tumbuh dari pasir kekuningan. Agak mustahil membayangkan bahwa mereka tumbuh. Tempat ini mungkin dulu lautan dan angin mengikis tiap batu jutaan tahun lamanya. Mereka yang menggemari Ancient Aliens bisa jadi percaya batu-batu ini alat komunikasi untuk berhubungan dengan penduduk galaksi lain. Ini semua bisa jadi soal ilmu pengetahuan, atau soal keyakinan. Kadang saya tak tahu bedanya. Ilmu saya dangkal, keyakinan saya lemah. Saya mau bersenang-senang saja untuk sementara.

Bumi begitu tua dan saya begitu terpesona. Kami ke Margaret River, kota di selatan Perth dengan iklim yang sejuk. Mungkin kota ini dulu pelarian para hippie. Saya menemui beberapa toko yang menjual produk-produk turunan dari hemp, varietas dari Cannabis sativa. Di sini pun banyak perkebunan anggur yang menarik orang-orang muda, terutama dari Eropa, untuk bekerja selama musim panen dan tinggal di penginapan murah untuk menyambung hidup. Bekerja untuk hari ini, hidup untuk hari ini. Pesta untuk selamanya. Begitu mungkin kredo mereka. Kami berkenalan dengan sekelompok pemuda jerman yang mengajak kami ke sebuah pesta di properti pribadi. Bush party selama tiga hari. Hedonisme singkat untuk hidup yang singkat. Tampaknya menyenangkan, tapi kami hanya tinggal dua malam di kota ini.

Margaret River mengenalkan kami pada gua-gua bawah tanah. Perjalanan ke gua dibungkus secara menarik dan informatif. Saya membayangkan gua-gua di Indonesia yang jadi tempat semedi. Horor. Bagi saya, gua memang magis. Kami menyambangi Mammoth Cave, Jewel Cave, dan Lake Cave. Lake Cave paling berkesan, sebuah gua basah dengan air mengalir di dalamnya. Air di dasar gua memantulkan interior gua, semacam ada dua dunia kembar di dalam. Di dalam gua, batu-batu tumbuh. Bayangkan, tumbuh! Teringat lagi pada ujaran Tan Malaka ‘terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk’. Mungkin seperti itu prosesnya. Terbentur dengan udara, angin, partikel, atom, batuan lain hingga terbentuk. Selama di dalam gua, kami juga sempat dikenalkan pada kegelapan total tanpa suara. Gelap yang absolut. Ini pengalaman bawah tanah yang akan sulit dilupa. Rasanya setelah itu, saya melihat cahaya matahari dengan kelegaan luar biasa.

Australia Barat adalah lanskap yang berbeda, yang mungkin bukan untuk semua orang. Ada yang mencari daratan hijau, ada yang mencari jejak kota lama, ada yang mencari makanan yang eksotis, ada yang mencari orang-orang lainnya. Ketika sedang berjalan-jalan di situs Flickr, saya menyadari bahwa ketika seseorang memotret sebuah pemandangan alam, mereka tak hanya mengambil sebuah gambar mati. Bagi saya, mereka yang berhasil menangkap ‘jiwa’ sebuah lanskap selalu menyajikan foto paling berkesan. Menuliskan dan memotret perjalanan adalah upaya mereduksi sebuah pengalaman. Jiwa sebuah tempat dan perjalanan tidak akan pernah berhasil disampaikan kembali secara utuh. Akan selalu ada yang kurang, kosong, luput, dan tak hadir. Mungkin sebab itu, dengan mengubah sedikit sajak Chairil Anwar, perjalanan adalah kesunyian masing-masing.

Sedikit pengingat perjalanan bisa ditengok di album ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s