Yang Terjadi ketika Kau Bangun Pagi

Sabtu, 22 November 2014. Pagi datang terlampau cepat. Seharusnya alarm tidak pernah disetel di sebuah Sabtu, ketika nyawamu masih tersangkut di Jumat malam. Seharusnya kau batalkan semua janji-janji di Sabtu pagi. Anehnya, tidak. Otakmu bersiaga ketika alarm menyalak. Otakmu masih aktif walaupun Kahlua, Moscato, Tequila, pun Carlton Draught semalam berkonspirasi di dalam darahmu. Tapi, mungkin konspirasi mereka membuatmu bangun di sebuah Sabtu pukul 7.oo. Kau pun keramas. Kau selalu keramas, demi sensasi aneh di kepalamu setiap pagi. Temanmu yang imut masih tertidur di karpetmu dan mendadak bangun melihat kau bersiap. “Kamu punya disiplin diri yang menakjubkan,” katanya dengan mata setengah terbuka.

Disiplin adalah kata yang menakutkan. Seakan-akan kau adalah tentara yang siaga di perbatasan tanpa disuruh. Itu analogi yang salah, karena tentara hanya berjaga di perbatasan karena disuruh atasan. Kau tidak punya atasan. Kau hanya punya motivasi tingkat tinggi kadang-kadang yang membuatmu menahan sedikit kantuk demi perjalanan yang belum kau tahu akan seperti apa.

Perjalanan kali itu bermula di Frankston, sebuah kota di pesisir pantai Victoria, menuju ke Mordialloc, kota lain di pesisir, yang berjarak 16 kilometer atau tujuh pemberhentian kereta. Kau kadang menertawakan dirimu karena mengapa harus berjalan menyusuri pantai sementara kau bisa naik kereta? Sayangnya, kau bukan orang yang praktis. Perjalanan kadang tidak pernah praktis. Perjalanan kali itu adalah perjalanan dalam arti harafiah maupun metafora. Kau berjalan kaki menyusuri pantai bersama tujuh orang lainnya yang mungkin sama tidak praktisnya dengan dirimu. Seorang pejalan pernah mendaki Gunung Kinabalu dan setiap tahun selalu menyempatkan diri mendaki gunung. “Saya hanya bisa berjalan dan berpetualang bersama orang lain maksimal 10 hari, setelah itu saya merasa harus sendirian,” ujarnya. Kau bingung, apakah dia bicara jujur atau dia membaca pikiranmu. Kau pun seperti itu.

Mungkin mayoritas para pejalan memang seperti kalian. Berjalan kaki bersama beberapa orang memang menyenangkan. Namun, pada beberapa fase, kalian berjalan sendirian menatapi begitu cepat jejak kaki di pasir dihapus ombak laut. Setelah empat jam perjalanan yang disambi makan siang, kalian melepas sepatu. Surga! 1,5 jam berikutnya kalian berjalan kaki tanpa sepatu membiarkan telapak menyentuh pasir, air, garam, dan serpihan kerang. Kakimu yang kapalan dan otot yang lelah seakan dipijat. Kau berjalan lebih cepat. Kau membayangkan manusia-manusia di masa lalu menatap lautan sambil terpukau, membayangkan bagaimana warna laut dan langit bisa berubah-ubah. Mungkin mereka pun takjub karena tekstur pasir yang mereka injak pun berbeda-beda. Kau pun takjub dan terpukau. Mungkin semua bisa dijelaskan dengan sains, tapi kau selalu mengizinkan dirimu terpukau untuk keajaiban kecil yang hadir melalui pasir dan lautan.

Di akhir perjalanan, rasa puas menggantikan kelelahan yang sangat. Kau menghadiahi dirimu es krim rasa jeruk yang masamnya membuat bibirmu perih. Kau kembali memakai sepatu dan meninggalkan pantai di belakangmu. Kau berpisah dengan teman-teman seperjalanan dan naik ke kereta yang membawamu menuju kota. Kota begitu ramai dan rasanya kau ingin kembali ke pesisir, ketika kau masih bisa mendengar suaramu sendiri. Mungkin pekan depan kau akan kembali. Mungkin juga tidak. Sebuah pagi akan selalu punya rencananya sendiri dan kau berbahagia karena di sebuah Sabtu yang datang terlampau cepat, kau memilih bangun pagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s