Tentang Menuangkan Isi Kepala

Saya selalu suka menulis, sampai suatu saat saya merasa bahwa dua bulan terakhir saya tidak lagi menulis. Tidak menulis untuk blog, untuk majalah tempat saya jadi relawan di Melbourne, tidak untuk koran apapun. Apakah saya suka menulis?

Empat bulan terakhir, saya kembali ke bangku sekolah. Saya belajar jurnalisme. Iya, belajar jurnalisme. Bekerja lima tahun di bidang jurnalisme tidak membuat saya kapok kembali mempelajarinya. Hasilnya? Saya panik. Persoalan utama adalah bahasa. Banyak orang berbahasa Inggris lancar, tapi menulis dalam Bahasa Inggris yang memukau dan akurat adalah soal lain. Saya rutin membaca artikel dan feature berbahasa Inggris. Tapi, lagi-lagi, menuliskannya adalah perkara lain.

Saya ingat masuk pertama kali di kelas Investigative Journalism. Darah saya seakan bergolak karena bersemangat. Profesor kami orang yang nyentrik. Aura kelas seakan berubah ketika dia masuk pertama kali, seakan-akan kami di tengah perang. Seakan-akan saat itu juga kami akan mengungkapkan kebenaran. Serius deh. Di pertemuan pertama, dia meminta kami menuliskan artikel pendek tentang pendapat kami soalnya. Instruksinya sederhana : tulis apa saja ketika kamu melihat saya. Ketika itu saya mendadak sakit perut.

Andaikan itu dalam Bahasa Indonesia, saya punya beratus kata untuk dilepaskan. Rambut abu-abunya yang berantakan kontras dengan jas biru dan dasi bergaris. Dua kancing kemeja teratas dibiarkan lepas. Matanya liar. Tatapannya penuh selidik. Suaranya berat dengan intonasi datar bak hakim yang sedang mengajukan pertanyaan pada tersangka. Dia membawa segepok majalah yang menurutnya “satu-satunya media yang bisa dipercaya di dunia saat ini.” Dia menyindir The New York Times dan The Guardian yang sampai sekarang masih jadi referensi saya untuk mempelajari diksi yang keren untuk artikel. Dia menyindir semua media. Oh, sinisme selalu menarik untuk ditonton, bukan?

Intinya, pertemuan pertama itu begitu traumatik. Saya kehilangan kata-kata. Otak saya berpikir terlalu keras sampai tidak mampu mengungkapkan apapun. Niatnya, saya mau membikin paragraf yang deskriptif dan detil bak Truman Capote membuka In Cold Blood. Apa lacur, saya terlalu sibuk berpikir soal grammar. Setelah pertemuan itu, saya memutuskan tidak akan mengambil mata kuliah itu.

Hidup saya tidak lebih tenang selepas itu. Saya masih berpikir, apa yang membuat saya tidak bisa menulis lagi? Saya masih menulis makalah akademik dalam Bahasa Inggris, bahkan ribuan kata. Saya membaca novel dalam Bahasa Inggris. Tapi ketika mau iseng menulis feature dalam Bahasa Inggris, nyali saya menciut. Seorang teman satu angkatan  saya berhasil mengorbitkan tulisannya di The Age. Petang tadi saya berjumpa dia di bawah langit Melbourne yang kali ini tidak menipu. Saya bertanya, bagaimana prosesnya menulis. Prosesnya menulis sebenarnya sama saja seperti ketika saya jadi jurnalis harian. Merencanakan isu, mencari bahan, menuju ke lapangan, membuat janji ketemuan, menulis, dan mengirim berita. Saya tanya, berapa lama waktu yang dia habiskan untuk menulis. Dia jawab enam jam. Mereka yang bekerja jadi jurnalis harian pastilah menghabiskan enam jam untuk menulis dua atau tiga berita.

Setelah bertemu teman saya, saya berjalan kaki pulang. Saya suka berjalan kaki karena saya suka menguraikan pikiran saya yang rumit ketika berjalan kaki. Lalu, sampailah saya pada kesimpulan: saya menulis lebih baik dalam bahasa ibu karena saya berpikir dan merasa dalam bahasa ibu. Semua indera dan emosi saya bagaimanapun akan melekat pada bahasa yang paling bisa dimaknai panca indera saya. Apalagi kalau bukan Bahasa Indonesia. Ini bukan soal nasionalisme tentunya, ini soal kebiasaan yang tertanam di semua sel-sel otak saya.

Solusinya untuk saat ini tidak lain adalah tetap membaca banyak artikel dalam Bahasa Inggris. Pacar saya yang adalah kritikus yang paling saya percaya menyarankan saya untuk menulis sedikit-sedikit dalam Bahasa Inggris. Saya terpikir menuliskan puisi, sajak, atau apapun yang kebetulan mampir di kepala. Yang pasti, semua harus dimulai dari sekarang. Saya percaya ini bukan karena saya tidak bisa menulis lagi. Tidak mungkin. Isi kepala saya terlalu penuh dan terlalu banyak plot yang begitu menarik untuk dilupakan begitu saja. Sekarang, tinggal bagaimana membuat isi kepala berumah dalam kata-kata.

Saya senang pengalaman gagap menulis justru membuat blog ini kembali bernyawa. Now, shall we have a drink?

NB: Foto diambil di Murchison Square, taman di seberang rumah teman saya. Di taman itu kami biasa mengambil jeda untuk merokok, menggosip, atau membicarakan hal-hal yang terlalu tabu untuk dibicarakan. Satu hal, kami belum mengambil jeda untuk berjuang jadi mahasiswa jurnalisme yang bersinar. Amen to that!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s