Seorang Perempuan yang Menangis Sendirian di Tepi Jalan

Apa yang ditangisi seorang perempuan di tepi jalan ketika Melbourne berbalut suhu 6 derajat dan isaknya mungkin ditenggelamkan suara roda-roda tram?

Jarum jam menunjukkan angka 10 malam. Aku sedang syahdu di kamarku, memelototi layar komputer, memastikan tiap aksara yang tertera di sana menempel di kepala. Sudah hampir dua bulan aku pindah ke kota yang didapuk sebagai the most livable city in the world. Ya, aku bisa tinggal di sini. Aku bisa berjalan kaki dengan riang di sini. Aku bisa sendirian tanpa harus terganggu siulan nakal dari entah siapa. Tapi, apakah ini kota yang paling nyaman dihuni? Kusisakan jawabnya di akhir nanti.

Oh ya, isak perempuan itu menyayat hati. Aku sangka aku mendengar suara hantu. Hantu? Ya, hantu. Pikiranku masih sungguh Indonesia. Semua yang tak terlihat dan memberi teror tak berbentuk kusebut hantu. Jadi, cinta juga mungkin hantu. Suara tangisnya mengalun seperti nada yang dihasilkan gesekan biola, teratur, tapi tentu tanpa kontrol. Penasaran, aku membuka tirai jendela. Perempuan itu di sana, menunduk menatap layar telepon genggam sembari terus menangis. Dia berdiri di samping lampu lalu lintas. Aku hanya melihat punggungnya yang kurus dan bergetar, entah karena dingin yang menerjang atau kesedihan.

Bagaimana aku bisa melihat itu semua dengan jelas? Tentu karena lokasi kamarku yang terletak persis di siku pertemuan dua jalan. Dari kamarku aku bisa mendengar suara kendaraan, percakapan pemuda-pemudi mabuk di Sabtu malam, rayuan seorang pemuda kepada pemudi yang mungkin berkenalan di sebuah klub malam, pekerja yang membetulkan jalan, bahkan suara orang buang air. Kisah terakhir betul adanya. Satu jam sebelum aku mendengar suara perempuan menangis, aku mendengar suara lelaki yang buang air. Aku mengetahui dia buang air karena dia bicara pada temannya, I gotta pee, dan sesudahnya gemericik air itu pun terdengar.

Banyak orang menghindari kamar yang terletak di siku jalan, terlebih yang berada di samping sebuah jalan yang dilalui banyak kendaraan. Sebetulnya kamarku tidak terlalu berisik. Suara-suara dari luar lebih seperti suara latar yang keluar dari penyanyi baru yang masih malu-malu. Aku suka kamarku karena jendelanya langsung menghadap ke sebuah jalan. Dari jendela itu aku sering melihat orang-orang yang menyeberang jalan, sendirian, berduaan, atau beramai-ramai. Aku pun melihat langit Melbourne yang berubah begitu cepat dari jendela itu.

Perempuan yang menangis sendirian itu adalah penglihatan yang paling membuatku gusar. Rasanya aku ingin keluar membuka pintu dan bertanya apakah dia baik-baik saja. Dari jendela aku melihat seorang laki-laki berjalan begitu saja melewati si perempuan yang menangis. Tapi, apa yang harus dilakukan ketika kita melihat orang asing yang menangis? Aku hanya memandangnya dari jendela dan membiarkannya terus menangis. Seingatku, ada 15 menit dia berdiri di tepi jalan sambil menangis, sebelum akhirnya dia menyeberang jalan dengan gontai, sambil tetap menangis.

Apa yang ditangisi si perempuan? Aku tidak tahu. Apa yang ditangisinya bisa jadi sama dengan yang ditangisi perempuan manapun maupun laki-laki manapun. Bisa jadi cinta yang kandas, harapan yang pupus, penantian yang sia-sia, usaha yang terbengkalai, rindu yang tak lunas, keluarga yang jauh, uang yang menipis, binatang peliharaan yang meninggal, idola yang meninggal, dan ya kau bisa menyebut apapun yang pernah membuatmu menangis.

Yang lebih membuatku gusar sebetulnya, apa yang membuatnya harus menangis di tepi sebuah jalan, ketika suhu membuat tanganmu membiru? Adakah seharusnya hatimu ikut beku sampai kau tak mampu lagi mampu menangis? Aku mungkin berlebihan soal ini. Dari semua tempat di dunia ini yang bisa dijadikan tempat untuk menangis (kamar, kamar mandi, dan apapun yang tertutup), mengapa dia memilih menangis di tepi jalan yang dilalui tram nomor 1 dan 8. Secara lebih spesifik, mengapa dia menangis persis di depan kamarku ketika aku bahkan terlalu ragu untuk berbuat sesuatu?

Ada banyak kemungkinan mengapa dia menangis. Ada banyak kemungkinan mengapa dia memilih menangis di tepi jalan. Ada banyak kemungkinan tentang apa yang mungkin terjadi jika aku menawarkan bantuan. Ada banyak kemungkinan yang akan muncul dari setiap tindakan yang diambil maupun yang tidak diambil. Satu tindakan itu membawamu ke kemungkinan yang lain dan tindakan yang lain. Dari segala kemungkinan yang bisa terjadi, aku memilih hanya melihatnya dari balik kaca jendela. Aku hanya melihatnya berlalu.

Di hidup yang singkat dengan ingatan yang pendek, mungkin tidak semua hal harus kau raih dan kau genggam. Ada kalanya kau hanya melihatnya, mengamatinya, dan membiarkannya berlalu. Jadi, apakah tanah asing ini adalah kota paling nyaman untuk ditinggali bagiku? Mungkin analoginya sama seperti perempuan yang menangis itu. Aku hanya memandangnya, masih belum menangis bersamanya, aku membiarkannya berlalu begitu saja sampai yang dominan terdengar adalah suara roda-roda tram.

Semoga di bulan entah ke berapa, aku bisa menangis bersamanya juga berdansa bersamanya, kendati udara membuat otak dan hatimu beku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s