Kisah-kisah Sedih yang (Tidak) Selalu Dilupakan

Ini sebuah kisah pilu yang mungkin tidak ingin kau baca. Duniamu bisa jadi sudah terlalu kelabu dan membaca ini akan membuatmu terlalu sendu. Tapi, aku menulisnya demi mereka yang belum ingin melupakan karena aku juga tidak ingin mereka dilupakan.

Ceritanya sampai ke telingaku dari seorang sahabat.

Dia belum genap lima tahun dan hidup di perkampungan di sebuah kabupaten yang dikenal kesulitan air di Provinsi DI Yogyakarta. Seperti gadis kecil seusianya, dia bermain dengan siapa saja tanpa menerka ada maksud dan motif apa di balik sebuah rupa. Lalu, tiba sebuah hari ketika mulutnya tiba-tiba terkunci dan air wajahnya begitu gusar. Orang dewasa kerap menerka bahwa anak kecil diam jika lapar. Tapi, diamnya kali ini begitu berbeda. Ibunya khawatir putrinya begitu diam dan semakin khawatir setelah putrinya angkat suara. Vagina putrinya luka dan berdarah. Seorang kakek yang begitu ramah dan kerap bermain dengan putrinya penyebabnya. Kita menyebutnya pemerkosaan. Kakek itu tinggal berdekatan dengan rumah mereka. Wajahnya tampak bersahabat begitu pula tingkahnya di hadapan banyak orang. Laki-laki tua itu juga memiliki keluarga yang baik-baik saja di mata para tetangga. Si Ibu tidak membutuhkan waktu lama untuk melaporkan kejadian tersebut kepada polisi.

Dan kali ini kita boleh sedikit berlega hati karena polisi bertindak cepat. Polisi segera menghubungi sebuah lembaga konseling dan advokasi kasus kekerasan dalam rumah tangga di Yogyakarta. Perwakilan dari lembaga tersebut segera menuju kampung si gadis kecil untuk mendampinginya dari tingkat kepolisian hingga pengadilan. Tidak seperti kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan seorang penyair yang ujungnya sumir, kasus ini punya akhir yang relatif lebih baik. Ah, lebih baik adalah ungkapan yang tidak sensitif. Si laki-laki tua hampir pasti berakhir di penjara. Tapi, si gadis kecil mungkin akan punya kisah yang lebih berliku.

Apa yang hilang tidak akan pernah kembali. Aku bukan sedang membahas soal selaput dara. Aku bicara soal jiwa gadis itu yang mungkin sudah koyak. Jiwa yang kerap dibicarakan tapi tidak pernah kita lihat bentuknya itu memang perkara pelik. Seumur hidupku yang belum panjang betul ini sudah pernah kulihat mereka yang hidup dengan jiwa yang koyak, residu dari sebuah masa yang telah lama berlalu. Mungkin kau dan aku juga. Bagaimana si gadis kecil itu belajar percaya lagi bahwa ada kebaikan yang tulus? Bagaimana dia akan menjalin relasi dengan laki-laki? Bagaimana dia akan memandang diri dan tubuhnya? Bagaimana sebuah noktah memengaruhi kehidupannya ke depan?

Belum selesai aku bersedih, cerita pilu lain singgah di kepalaku. Kendati kubaca di koran, entah mengapa aku merasa kisah ini begitu dekat denganku. Dua gadis remaja berusia 14 dan 15 tahun di Uttar Pradesh, India, diperkosa lalu dicekik dan digantung hingga mati di sebuah pohon mangga. Pelakunya adalah dua orang polisi dan dua pemuda lain dari desa tempat dua gadis itu berasal. Keluarga si gadis berasal dari kasta Dalit, kasta terendah di India. Pikiranku langsung melayang pada kisah pedih yang memukau yang ditulis Arundhati Roy, The God of Small Things, yang menyinggung relasi kasta -terutama soal Dalit yang disebut The Untouchables– di tengah pusaran politik dan cinta yang rumit. Aku juga terkenang India yang kukunjungi pada Juli 2011. Kami singgah di Agra yang berada di wilayah Uttar Pradesh. Apakah mungkin kita berpapasan? Ah, tidak mungkin. Kami terlalu sibuk berwisata di Taj Mahal ketika mungkin kalian kesulitan mencari makan dan jamban di desa nan jauh. Turisme menyejahterakan warga lokal? Oh, itu hanya jualan para penguasa.

Aku membayangkan teror yang terjadi di bawah pohon mangga itu, menit-menit ketika jiwa akan melayang dari tubuh kalian. Mungkin kalian berpikir bahwa mati adalah pilihan terbaik bagi mereka yang lahir dengan kasta rendah. Menjadi perempuan dengan kasta yang rendah ibarat kutukan, kalian lahir dan tidak bisa lari dari hal itu. Setelah kalian tiada, warga desa berbondong-bondong menuju ke pohon mangga dan melaksanakan protes diam untuk memaksa polisi segera bertindak. Tapi kau tahu, polisi di film India yang kita tonton selalu datang terlambat. Terkadang film adalah cerminan realita, karena pada kenyataannya polisi memang begitu lambat menangani kasus ini.

Di India, negeri tempat lahirnya Mahatma Gandhi yang menyerukan gerakan nirkekerasan, justru kekerasan terhadap perempuan terus berlangsung. Sebuah laporan di koran yang kubaca menyebutkan, terjadi pemerkosaan setiap 22 menit di India. Terlalu banyak kisah pemerkosaan di India yang kubaca di media massa. Kisah-kisah itu banyak menggerakkan orang untuk turun ke jalan, memprotes hukum dan peraturan yang tidak berpihak kepada korban. Aku membayangkan negeriku, ketika para korban kekerasan yang bersuara justru menjadi bulan-bulanan di sosial media hingga media online. Aku selalu berpikir, mereka yang mengaku jurnalis tapi tidak berperspektif korban sebaiknya berhenti menyebut diri mereka jurnalis. Setidaknya aku tidak perlu terlalu sedih membayangkan bagaimana dua remaja ini menjalani kehidupan di masa depan. Aku berharap kematian adalah pembebasan dari karma-karma buruk yang menimpa mereka sepanjang hidup yang singkat di pelosok di Uttar Pradesh.

Di ujung kisah ini, aku tetap merasa kisah ini terlalu pilu bahkan untuk diceritakan ulang oleh pencatat tidak ulung sepertiku. Di luar kisah yang kusampaikan, ada banyak kisah yang tidak diceritakan atau akan terus dipendam di batin seseorang. Aku berharap kau -kalau selesai membaca tulisan ini- tidak melupakan kisah ini. Ada kisah pilu yang baiknya segera dilupakan. Tapi, ini kisah yang sebaiknya kau ingat, karena ini kisah yang akan membuatmu tumbuh, semoga dengan lebih kuat, semoga dengan hati yang begitu luas, semoga dengan empati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s