her: Cinta yang Tak Pernah Masuk Akal

Entah mana yang lebih menyedihkan, cinta yang pupus atau cinta yang absurd. Bagi Theodore Twombly (Joaquin Phoenix), penulis penyendiri yang sentimental, keduanya sama menyakitkan juga memerangkap. her, karya terbaru Spike Jonze, menangkap kumpulan emosi Theodore, termasuk soal kesepian yang tak mau pergi.

her seakan bertempat di masa depan, ketika komputer dan perangkat elektronik dapat beroperasi hanya dengan perintah suara. Tokoh utamanya, Theodore, adalah seorang perangkai surat cinta di situs BeautifulHandWrittenLetters.com. Dari surat-surat yang dia buat, kita bisa membaca betapa halus dan rapuh seorang Theodore. Isi surat-surat itu seakan menyuarakan hatinya sendiri.

Kehidupan asmara Theodore memang tengah pahit, pasca-berpisah dengan istrinya, Catherine (Rooney Mara). Sepanjang saat dia terus terkenang saat-saat mereka bersama. Catherine yang mempesona itu bekerja sebagai penulis dan menolak menjadi istri yang penurut, mengutip katanya, layaknya istri lain di LA. Sempat timbul pertanyaan, apa yang membuat Catherine yang bersinar itu jatuh cinta pada Theodore?

Sekilas, Theodore jauh dari imaji perempuan tentang pria ideal. Kemeja selalu masuk ke dalam celana, celana dipakai hingga di atas pinggang, dan kumis yang seakan ditempel begitu saja. Dia kerap begitu kikuk dan tak percaya diri. Namun, perlahan kita melihat sosok Theodore yang begitu lembut, perhatian, dan kesepian.

Di dalam diri Theodore ada ruang kosong yang ditinggalkan oleh istrinya. Kekosongan itu menelannya bulat-bulat, tanpa dia mampu dan mau keluar darinya, hingga dia bertemu Samantha. Samantha adalah sebuah program kecerdasan buatan yang terpasang di telepon genggam Theodore, yang dirancang menjadi teman dekat bagi si pengguna. Samantha (Scarlett Johansson), yang hanya kita dengar suaranya, adalah si penyelamat dengan suara mendesah. Dia hadir 24 jam dan selalu menimpali apapun lontaran Theodore.

Bagi Theodore, Samantha mengisi ruang kosong di hatinya, yang tak mampu diisi bahkan oleh perempuan-perempuan lain yang sempat ia kencani. Theodore pun terang-terangan menyebut Samantha sebagai kekasihnya dan bahkan berhubungan intim –tentunya secara virtual- dengannya. Tak peduli apakah sebenarnya Samantha, Theodore menemukan cinta.

Mimpi musim panas

her menampilkan warna-warna pastel, seperti percampuran warna buah-buahan dan permen, yang bagi saya memberi aura melankolis. Gambar-gambarnya ibarat sebuah potret yang dihasilkan dari kamera lomo dengan semburat matahari yang hangat di kertas yang agak usang. Warna ini menyatu dengan emosi Theodore pun kisah asmaranya.

Mencoba keluar dari perangkap cinta masa lalu, Theodore masuk dalam cinta yang baginya tak berbatas, tak berbentuk, bahkan tak terdefinisikan. Cinta yang tak masuk akal itu seakan mewujudkan apa kata Friedrich Nietzsche, there is always some madness in love, but there is also always some reason in madness. Dan, selayaknya mimpi musim panas yang akan selalu usai, begitu pula cinta dan kegilaan.

Advertisements

2 thoughts on “her: Cinta yang Tak Pernah Masuk Akal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s