Pelintas Batas

“I was ravenous. For food. For life…”
Edna O’Brien – novelis berdarah Irlandia – menggambarkan dirinya seperti itu : lapar dan rakus pada makanan juga pada kehidupan. Tapi, bisakah kita tidak lapar pada kehidupan?
Perkara ‘lapar’ itu yang membuat berbagai macam manusia telah berjalan, berlari, juga mengembara untuk sebuah dunia yang lain, untuk sebuah alternatif. Lapar itu yang dengan lugas digambarkan oleh Sarah Pierce di film Little Children (2006) yang dimainkan oleh Kate Winslet . Alkisah dalam sebuah klub membaca buku, Sarah diminta menyampaikan interpretasinya terhadap tokoh Emma Bovary dalam novel Madame Bovary (1856) karya Gustav Flaubert.

Emma Bovary yang tidak bahagia dengan pernikahannya mencoba menerobos dinding-dinding tak kasat mata (bayangkan itu abad 19!) dengan memulai petualangan cinta. Dia mengembara dari satu pria ke pria lainnya. Sarah dengan lantang menolak Emma sebagai seorang idiot yang membiarkan dirinya berpindah-pindah pelukan. “It’s not the cheating. It’s the hunger for an alternative. The refusal to accept unhappiness,” kata Sarah di tengah kepungan sorotan mata nan tajam.

Edna dan Emma mengingatkan saya pada dua kawan perempuan yang melakukan dua lompatan penting dalam hidupnya. Saya bertemu keduanya di sekolah musim panas di Oslo, Norwegia, tahun 2012. Sebagai sesama orang Indonesia, kami kala itu merisaukan masalah yang sama : intoleransi dan korupsi di Indonesia. Kami sempat merasa muda dan putus asa.

Si kawan satu, sebut R, menikah dengan pria berkebangsaan Norwegia musim panas itu. Keduanya sudah menjalin hubungan selama tujuh tahun. Mereka menikah di pengadilan di Oslo dengan hanya disaksikan keluarga dari pihak pria. R, adalah perempuan muda, kritis, dan vokal. R tidak takut menyampaikan pendapatnya. R tidak takut menjadi berbeda. Dia belum kembali ke Indonesia lagi sejak menikah dan memutuskan memulai kehidupan dari nol di tanah baru.

R belajar bahasa dan dia menunjukkan semangatnya untuk berbaur dengan budaya yang baru. Tapi, hidup tidaklah mudah bagi imigran dari negara Asia untuk mencari penghidupan di Eropa. Pengalaman berorganisasi di berbagai lembaga, pendidikan tinggi, hingga publikasi level internasional yang dimiliki R tidak ada artinya di negara baru. Dia tidak putus asa. Dia membuat kanal online yang membuat informasi wisata dan kuliner sekaligus bekerja di sebuah toko.

Status Facebook-nya kadang membuat saya iri. Bukan iri karena dia di negeri orang. Bukan. Saya iri pada semangatnya yang tidak padam-padam. Sehari sebelum kami berpisah, saya bertemu dia di laboratorium komputer. Dia mencari informasi tentang pernikahan beda kewarganegaraan. Saya selalu mengenangnya seperti R yang itu: yang terus mencari.

Kawan yang lain, N, berasal dari Kalimantan. Dia menyebut dirinya “anak kampung yang keinginannya kuat.” Dia ceriwis, kritis, dan mudah bergaul. Selama musim panas dia berkawan dengan seorang pria Norwegia yang dia kenal dari situs couchsurfing. Perkawanan itu ternyata tidak tuntas pun selepas musim panas. N kembali ke Indonesia, ke kampungnya dan kami masih sering bertukar kabar lewat Facebook. Hingga tiga bulan lalu dia membuat kejutan yang merontokkan nyali.

Pesan dari N singkat, lugas, dan tanpa kompromi. Dia kabur dari rumah dan dia akan menikah secara siri dengan J, si pria Norwegia. Seluruh keluarga N tidak setuju dan mereka menahan semua barang-barang –termasuk KTP dan paspor- milik N. N dan J sudah meminta restu kepada keluarga N. J bahkan bersedia pindah agama sesuai keyakinan N. Restu tetap tak didapat. Perkaranya: keluarga N tidak mau N tinggal di luar kampung. Mereka ingin seluruh keluarga tinggal berdekatan kalau perlu dalam satu rumah. Mereka juga tidak ingin N bekerja. Mereka tidak ingin N menikah dengan orang dari luar kampung.

N, si lincah dengan gelar master setelah menempuh pendidikan di AS berkat beasiswa, berontak. Dia pergi ke ibu kota. Empat hari lalu tiba-tiba ada kabar lain dari dia yang membuat mata saya menghangat.

N dan J sekarang berada di Norwegia dan dua hari lalu mereka menikah di Tinghus di Oslo, pengadilan tempat orang mencatatkan pernikahannya yang memang sah secara hukum. Mereka tinggal di sebuah area yang dekat dengan Taman Vigeland, taman pahat nan magis di Oslo. Entah mengapa saya bahagia sekaligus bersedih.

Lapar
Dua kawan ini melompat lebih tinggi dari yang pernah mereka bayangkan, meninggalkan negeri, keluarga, juga memori. Saya teringat ketika kami berbincang soal pindah kewarganegaraan. R dan N percaya semua orang berhak menentukan berpindah negara untuk menentukan kehidupan yang lebih baik. Konvensi PBB memang menyatakan hal itu. Sedangkan saya –yang sentimentil- selalu berpikir berpindah kewarganegaraan bukan semata mengganti dokumen.

Albert Einstein bilang “nationalism is an infantile disease. It is the measles of mankind.” Apakah saya nasionalis? Saya hanya sentimental dan melankolis. Keinginan saya untuk tetap di negara ini bukan disokong oleh apa yang disebut NKRI, merah putih, Pancasila, atau apapula itu. Saya tinggal untuk ayah, ibu, saudara, kawan terbaik, kekasih hati, dan untuk proses yang masih saya percaya. Sebut saya naif dan bodoh, tapi memang hanya itu yang membuat saya bertahan.

R dan N telah melalui persimpangan mereka. Saya percaya mereka telah menempuh jalan panjang yang berliku sebelum akhirnya memutuskan pergi. Dan, saya percaya mereka memilih tanpa paksaan, demi sebuah dunia lain yang ingin mereka jalani.

Bagi saya setiap hari tetap sebuah persimpangan juga upaya untuk melintasi batas-batas yang dibuat manusia, atau batas-batas psikologis yang kadang menggerogoti diri saya perlahan. Saya percaya kau pun masih ingin berjalan, berlari, dan mengembara demi apapun itu, yang masih kau perjuangkan (kadang) dengan perasaan putus asa.

Menyitir Edna O’Brien, saya masih merindu alternatif, a life filled with the extremities of joy and sorrow, love, crossed love and unrequited love, success and failure, fame and slaughter.

Saya percaya kau pun lapar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s