Yang Mati di Tanah Terjanji

18 Februari 2013. Tanah kemerahan di Cikutra, Bandung, merengkuh tubuhnya, menariknya ke dalam kegelapan tanpa nama. Di sini, pelarian seorang pejuang dari tanah asing berakhir.

Panggil dia M, berusia 26 tahun. M berkewarganegaraan Somalia. Somalia yang tercabik perang telah memecah sesama warga dalam kutub-kutub berseberangan. M melihat keluarganya dibunuh di depan matanya dan dia melihat ketidakpastian untuk melanjutkan hidup di negaranya.

Saya melihat harapan yang mati di Cikutra. 20 orang pemuda Somalia mengelilingi pusara sementara mendung mulai menggantung di atas sana. Sudah hampir lima tahun para pemuda ini tinggal di Indonesia dan bersekolah di Institut Teknologi Bandung. Beberapa dari mereka berbahasa Indonesia dengan fasih dengan pelafalan yang sempurna seakan bahasa ini telah menempel lama di lidah mereka.

M seharusnya bersama mereka, pemuda-pemuda dalam pelarian. Seharusnya saat ini dia telah berhasil melintasi benua, menuju Denmark yang akan menjadi negara barunya. Seharusnya dia mengantongi surat sehat untuk melanjutkan perjalanan yang menjadi tiket emas menuju negara Skandinavia nan makmur itu. “Seharusnya” adalah tirani yang mengekang semua manusia.

Satu tahun lalu, M meninggalkan negaranya. Negara yang memang menjadi tanah tumpahnya darah ribuan saudaranya. Tujuannya? Perbaikan hidup. Entah sejak kapan “perbaikan hidup” dibelokkan menjadi Australia, ketika gelombang pengungsi berlomba menuju benua yang kini menutup pintu rapat-rapat terhadap pengungsi kendati harus meregang nyawa di atas lautan ganas. Apakah mati mungkin lebih baik daripada terkatung tanpa kepastian di tanah persinggahan?

Indonesia adalah tanah persinggahan pula bagi M. Namun, dia bernasib lebih baik. Melalui proses dan lobi panjang dan tentu kerjasama begitu banyak lembaga internasional dan pemerintahan Indonesia, kabar baik akhirnya datang untuk M: Denmark bersedia menerimanya.

Kabar baik itu tidak bertahan lama. Penyakit menggerogoti tubuh si pemuda. Hampir tiga bulan dia dirawat di Unit Gawat Darurat RS Advent Bandung. Surat sehat dari dokter adalah kunci dalam program penempatan kembali pengungsi bilamana negara ketiga (negara tujuan) telah bersedia menerima pengungsi.

Berbagai penyakit yang menyerang ginjal dan organ-organ dalam tubuhnya membuat M tak lagi sadar tiga hari sebelum kematiannya. Senin (18/2) pukul 10.00, M akhirnya merdeka dari sakit dan ketidakpastian. Dia pulang.

“Where is God?”

Indonesia adalah gerbang bagi pengungsi dan pencari suaka. Hingga akhir Januari 2013, UNHCR mencatat ada 6.761 pencari suaka yang terdaftar di UNHCR Jakarta yang di antaranya berasal dari Afghanistan (49%), Iran (13%), Pakistan (8%), dan Srilanka (7%). Namun, Pemerintah Indonesia belum menandatangani dan meratifikasi Konvensi 1951 ataupun Protokol 1967 tentang status pengungsi dan pencari suaka sehingga semua orang asing yang masuk ke wilayah Indonesia tanpa izin dikategorikan sebagai imigran gelap dan ditempatkan di Rumah Detensi Imigran.

Bila nasib seorang warga negara di Indonesia saja sudah begitu mengenaskan, bayangkan nasib manusia dari negeri asing yang terkatung-katung di negeri ini. Di Indonesia, tugas pendataan dan penentuan status mereka dilakukan oleh UNHCR. Namun, ada juga lembaga lain yang terlibat untuk mengurusi biaya hidup pengungsi selama di Indonesia.

Di Cikutra saya bertemu Taka, perempuan bertutur kata lembut dari Jesuit Refugee Service. Dia langsung menuju ke Bandung dari kantor JRS di Bogor. Taka yang kerap menangani pengungsi terlihat lebih bisa berdamai dengan situasi, atau pasrah mungkin. “Hidupnya tenang sekarang,” kata Taka sembari menatap gundukan tanah pekuburan.

Persoalan pengungsi ibarat benang kusut yang sudah begitu sulit diurai karena tidak hanya melibatkan satu negara bahkan tiga negara dengan berbagai lembaga pemerintah maupun nonpemerintah. Menunjuk satu orang sebagai terhukum bukanlah solusi bagi persoalan ini.

Bayangkan kisah ini. Seorang pemuda melarikan diri dari negaranya karena ancaman pembunuhan akibat perbedaan ideologi politik. Dia mengarungi lautan dengan tujuan menuju Australia. Semenjak penjagaan di bibir-bibir pantai Australia diperketat, dia terkatung-katung di perairan Indonesia dan ditangkap polisi Indonesia. Akhirnya di berakhir di Rumah Detensi Imigran tanpa tahu kapan dia bebas dan bagaimana dunia di luar sana berjalan.

“Di dalam rumah detensi, pertanyaan paling lazim adalah, ‘where is god’,” kata Taka.

Dengan suhu politik yang semakin memanas di berbagai belahan bumi ini dan semakin tipisnya toleransi terhadap mereka yang berbeda, konflik tidak terhindari. Seperti sebuah cerita lama yang sudah terlalu sering kita dengar, yang kalah akan terusir dan mencoba mencari sebuah tanah terjanji. Tanah terjanji yang mungkin hanya ilusi.

Di Cikutra, kita tahu M telah tiba di tanah terjanji, karena hanya sebuah kematian yang pasti.

*Nama-nama yang terlibat disamarkan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s