Göteborg, Selepas Pagi Pukul Dua

Saya tahu dia mencoba mengajak saya bicara. Dia berpura-pura berkonsentrasi pada layar telepon di genggamannya. Sesekali matanya menatap saya, mungkin mencoba menerka mengapa seorang perempuan duduk sendirian di terminal bus ketika pagi masih terlalu buta. Hujan mengganas di luar sana. Isi kepala saya mendadak menjadi nyata. Dia menatap saya, “Are you Chinese?”

Saya ingin tersedak mendengar pertanyaannya. Mulai dari Indonesia, Qatar, Norwegia hingga Swedia saya selalu disangka China. Tapi saya sedang tidak butuh drama, sayapun menjawab, “Ah ya banyak orang selalu menyangka demikian. Tapi, saya orang Indonesia.”

“Wow, Jakarta,” kata pria itu mendadak begitu bersemangat. Jakarta pun akhirnya menjadi penyambung pembicaraan kami berikutnya. Sendirian dan kedinginan di terminal bus di sebuah negeri asing, rasanya semua kekhawatiran saya larut dalam pembicaraan dengan si orang asing ini.

Empat jam sebelumnya saya masih berada di Malmö, kota industri di Swedia, bersiap melanjutkan perjalanan ke Göteborg. Saya sendirian setelah Julia kawan saya kembali ke Norwegia. Saya tidak pernah takut sendirian, saya justru canggung di kerumunan. Tapi siapa sangka, kalau sendirian di terminal bus juga bisa begitu mendebarkan.

Terminal bus Nils E di Göteborg pukul 02.00 adalah sisi lain Swedia yang bersih dan teratur. Gelandangan bukan main banyaknya. Mereka juga mabuk. Beberapa dari mereka meracau entah apa ketika berpapasan dengan saya. Puji semesta saya tidak mengerti bahasa Swedia! Telepon genggam dan laptop saya habis baterai. Oh sungguh saya mati gaya menanti pagi mulai tiba.

Ketika kesabaran berbuah manis, sungguh enak rasanya. Pukul 08.00, matahari menyapa. Saya melangkah ke luar terminal membopong ransel bak kura-kura. Dengan sepasang kaki, saya mengelilingi kota tanpa lupa menyambangi kota tua Haga dan menikmati fika. Fika adalah kebiasaan orang Swedia untuk bersosialisasi ditemani kopi dan seiris kue bergula. Kawan saya kala itu hanyalah seekor burung gereja yang mendarat di meja ketika saya menyeruput secangkir kopi dan menyantap kue wortel di bawah naungan kanopi merah menyala.

Sepuluh jam saya berjalan sembari merekam semua suasana di kamera juga di kepala. Angin dingin musim panas ini sungguh harusnya dinikmati sambil menyenderkan kepala ke entah dada siapa. Sungguh imajinasi yang sungguh terlambat dan sia-sia.

Saya mengecek tiket yang akan membawa saya kembali ke Norwegia. Tiga jam perjalanan dengan ongkos Rp 270.000 atau setara dengan 189 Swedish Krona. Dengan terburu-buru saya kembali ke terminal yang kini jauh lebih ramai dan berisik. Bus saya sudah tiba. Göteborg menutup perjalanan empat hari saya di tiga negara Skandinavia.

Saya teringat kembali pria asing di pagi buta. Dia juga imigran yang mungkin mencoba peruntungan atau sekadar lari dari hidupnya yang lama. Saya tidak tahu namanya, dia tidak pernah tahu nama saya. Kadang aneh, di tempat asing dan bersama orang yang asing, justru kita menemukan suaka.

Saya ingat kata-katanya, “Senang bertemu denganmu, gadis Indonesia.”
Saya melompat ke bus yang membawa saya ke Norwegia, menyimpan semua kisah yang akan terus saya ingat bulan-bulan sesudahnya. Hidup memang penuh petualangan tidak terduga.

Sampai jumpa. Ya, sampai jumpa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s