Sapri, Gaji, dan Janji-janji

“Mbak, kalau tuntutan buruh diterima, gaji saya naik tidak ya?”, tanya Sapri, office boy di perusahaan tempat saya pernah bekerja. Dia pegang kain pel basah. Saya khawatir kalau salah jawab, kain pel itu berpindah ke muka saya.

Itu terjadi sembilan bulan lalu waktu saya masih bertugas di Makassar, Sulawesi Selatan. Sapri sudah hampir dua tahun bekerja jadi office boy. Sekilas terdengar keren, office boy, nginggris. Kerjaannya? Mengerjakan semua yang kita-kita yang sarjana cumlaude enggan mengerjakan. Gajinya? Mungkin sepersepuluh gaji para pekerja korporasi. Saya menangisi nasib Sapri sekaligus menyindir diri sendiri kala itu.

Sapri tidak pernah tahu jumlah gajinya. Dia buruh outsourcing yang tiap bulan menerima upah dari si Pak Bos, seorang polisi yang kantornya berdekatan dengan kantor saya. Si Pak Bos juga bekerja untuk juragan lain untuk menyuplai tenaga keamanan maupun OB untuk kantor-kantor di Makassar. Kebetulan tiga satpam di kantor juga anak buahnya Pak Bos itu. Mereka semua tidak punya rekening di bank. Gaji dikasih kontan tiap bulan cuma berselimut amplop.

Saya tidak tega untuk tanya gaji Sapri. Dia hanya bilang, “Tidak sampai Rp 900.000,- mbak.” Ketika itu Pemerintah Kota Makassar menetapkan UMK Rp 1.265.000,-. Tapi saya lebih percaya itu hanya berhenti di bibir Walikota. Maaf, saya memang susah percaya.

Sapri tidak tahu berapa besar uang yang dipotong oleh Pak Bos. Mau tanya? “Aduh mbak, sudah gemetar duluan mau tanya,” kata Sapri. Yang pasti uang itu tidak cukup untuk membiayai istri dan dua anak. Sapri pun akhirnya memilih menumpang di rumah mertua. Mana cukup gaji untuk bayar uang sewa? Kalau sampai kantor sore hari, saya kerap mengintip Sapri yang makan mie instan rebus. Setiap hari.

Beberapa kali dia pinjam duit ke rekan kerja untuk beli susu bayi. Lagunya Iwan Fals terdengar relevan banget “BBM naik tinggi, susu tak terbeli.” Mungkin dia malu pinjam ke saya karena saya perempuan. Padahal, apa hubungannya? Kadang saya minta tolong Sapri untuk mencucikan motor supaya saya punya alasan untuk kasih dia duit.

Selama bertugas di Makassar, berkali-kali ada demonstrasi buruh. Kini ketika saya sudah keluar dari perusahaan itu pun demonstrasi terus berlangsung. Pun, hari ini ketika ribuan buruh dikabarkan beraksi. Saya teringat Sapri yang mungkin tidak akan turun ke jalan. Bukannya tidak ingin, tetapi sekali mogok mungkin pekerjaannya melayang.

Saya tidak tahu apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk menolong Sapri. Saya sudah lupa mereka bisa apa. Tapi, saya tahu apa yang bisa saya lakukan dan mungkin beberapa dari kita sudah lakukan, memberi sedikit demi sedikit kalau mereka kekurangan. Saya percaya orang seperti Sapri juga punya harga diri untuk tidak terus meminta. Atau banyak dari kita mungkin tidak kenal dan tidak mau bicara sama OB dan satpam? Yah, orang-orang seperti itu hidup kok di muka bumi.

Setelah demonstrasi ini mari tengok berita terkini. Mungkin ada kabar terbaru dan janji entah dari siapa soal perbaikan nasib buruh. Mungkin juga tidak. Mungkin orang lelah berjanji, tetapi semoga para buruh tidak lelah menagih janji.

Saya berharap kali ini Sapri tidak hanya gigit jari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s