Pengungsi, Hanya Debu dan Ketidakpastian yang Menanti

Asria (kiri) dan Senia (kanan) menunjukkan foto kamp pengungsian di Aljazair.

“Kenapa kamu tidak pulang ke negaramu?” tanya saya penasaran pada Asria Mohamed Taleb, seorang gadis dari Sahara Barat yang tinggal di kamp pengungsian di Aljazair. Dia terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Apa yang bisa saya lakukan di sana? Hanya ada debu dan ketidakpastian yang menanti.”

Mau tidak mau saya teringat Asria dan Sahara Barat ketika membaca artikel Badan Pengungsi PBB Perlu Ratusan Juta Dolar untuk Bantu Pengungsi Suriah yang dipublikasikan di VOA pada 27 September 2012. Berita itu menyebutkan bahwa Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mencatat ada sekitar 700.000 warga Suriah yang sekarang meninggalkan negaranya dan menuju ke Yordania, Iran, Lebanon, dan Turki. Untuk memenuhi kebutuhan pengungsi, dibutuhkan setidaknya dana 500 juta dollar AS.

Bagi kita yang hingga saat ini hidup dengan nyaman di rumah atau kos pribadi, mungkin sulit membayangkan hidup di kamp pengungsian. Asria, misalnya, tumbuh besar di tenda pengungsi di tengah padang gurun Aljazair. Konflik antara Maroko dengan Republik Demokratik Arab Saharawi menempatkan Sahara Barat sebagai wilayah perebutan dan penduduknya hidup dalam pengungsian. Tidak ada televisi, tidak ada informasi, makanan dan minuman terbatas, dan yang terutama tidak ada kebebasan.

Mereka yang Terusir
Pengungsi menurut definisi UNHCR adalah mereka yang terpaksa meninggalkan negaranya akibat bencana atau konflik yang bisa jadi berkaitan dengan suku, agama, kewarganegaraan, juga pandangan politik. Kenapa harus mengungsi? Karena negara asal mereka tidak lagi menjamin keamanan bahkan hak mereka sebagai warga.

Pengungsi bisa dikatakan masalah global. Jumlah mereka di seluruh dunia menurut situs UNHCR mencapai 42 juta jiwa. Bayangkan, dengan jumlah yang sama kita bisa membentuk satu negara. Beberapa negara yang saat ini ‘memproduksi’ pengungsi misalnya, Afghanistan, Irak, Somalia, dan Sudan. Negara tetangga Indonesia di kawasan Asia Tenggara, yaitu Myanmar, baru-baru ini juga sedang serius menangani masalah pengungsi. Pertempuran antara tentara Myanmar dengan Tentara Pembebasan Kachin membuat hampir 10.000 warga mengungsi demi keselamatan diri mereka.

PBB menunjuk UNHCR sebagai badan yang mengurus para pengungsi. Namun, bukan berarti masalah cepat selesai. Untuk memastikan pengungsi hidup dengan layak tentu butuh dana besar. Jika untuk 700.000 pengungsi Suriah saja, PBB membutuhkan dana 500 juta dollar AS, berapa yang dibutuhkan untuk pengungsi di seluruh dunia? Terlebih lagi, orang tidak hidup di pengungsian dalam hitungan hari. Keluarga teman saya Asria misalnya sudah hidup di kamp pengungsian lebih dari 20 tahun!

Pulang, Berbaur, atau Relokasi
Hidup di pengungsian rasanya seperti tanpa masa depan bagi Asria dan pengungsi lainnya. Mereka terlepas dari pekerjaan, tanah tempat tinggal, dan kehidupan sosialnya. Ibarat pohon, mereka tercerabut dari akarnya. Selama ini ada tiga pilihan yang ditawarkan oleh UNHCR, yaitu pemulangan kembali/repatriasi, integrasi di tempat baru, atau pemukiman kembali/relokasi baik di negara maju maupun berkembang.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa urusan Indonesia dalam masalah pengungsi? Perlu diketahui, setelah seseorang terpaksa meninggalkan negaranya, perlindungan dan bantuan untuknya menjadi tanggungjawab komunitas internasional. Nah, Indonesia sebagai salah satu anggota PBB artinya punya tanggungjawab itu. Setidaknya ada 1.225 pengungsi dari Afghanistan, Srilanka, dan Myanmar yang terdaftar di UNHCR Jakarta sampai Juli 2012.

Hidup di pengungsian bukan liburan. Selama kampung halaman tidak aman, pulang mungkin bukan pilihan. Upaya berbaur di tempat baru juga bisa dilakukan. Tapi, tidak ada yang benar-benar mudah dan instan. Pengungsi bertahan di pengungsian dengan berbagai cara. Asria, misalnya, membentuk radio untuk pengungsi yang berisi informasi dan perkembangan di luar gurun pasir.

Sebelum bertemu Asria di Norwegia dua bulan lalu, saya tidak tahu apa-apa tentang kamp pengungsi tempatnya tinggal. Saya pun jarang menemukan berita soal Sahara Barat. “Bagi media massa, mungkin kisah kami kurang menarik ketimbang pengungsi lainnya. Padahal nasib pengungsi di mana-mana sama,” katanya.

Pernyataan Asria bisa jadi benar. Saya tidak mengerti mengapa media internasional bisa mengangkat isu pengungsian di satu tempat dan melupakan pengungsi di tempat lainnya. Itu sebabnya saya menulis tentang Asria, agar masih ada yang mendengar kisahnya dan para pengungsi lainnya. Mungkin setelah itu mereka yang berkonflik berpikir ulang untuk melanjutkan pertempuran yang tidak pernah usai. Mungkin juga konflik tetap berlangsung dan pengungsi tetap tinggal di tanah asing. Apapun yang akan terjadi, setiap kemungkinan selalu layak diperjuangkan.

Advertisements

One thought on “Pengungsi, Hanya Debu dan Ketidakpastian yang Menanti

  1. Pingback: Pengungsi, Hanya Debu dan Ketidakpastian yang Menanti « Kontes Ngeblog VOA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s