Copenhagen: Dua Kaki vs Dua Roda

Kawan petualangan terbaik adalah kaki yang kuat.

Setidaknya itu kredo kami, saya dan Julia cewek asyik dari Slovakia, saat mengunjungi Copenhagen, ibu kota Denmark, pada hari musim panas di bulan Juli. Ujian pertama dimulai sejak berangkat dari Oslo pukul 22.00. Kami begitu bersemangat bak remaja mau kencan pertama. Harap maklum, hanya dengan tiket seharga Rp 500.000,- dalam waktu delapan jam kami akan berpindah ke lain negara. Itu harga termurah ketimbang naik kereta, apalagi pesawat udara. Mana mampu kami sebagai anak beasiswa.

Begitulah perjalanan dimulai. Si kaki yang terus terlipat delapan jam di dalam bus rasanya ingin berontak. Dengkul terasa keropos bak orang tua. Tapi semua letih hilang saat Copenhagen sudah di depan mata. Ujian kedua adalah mencari rumah Venda. Ini juga cerita yang sulit dilupa.

Venda, seorang kawan dari Indonesia, tinggal di Copenhagen selama musim panas. Lagi-lagi demi menghemat uang, kami pun berencana menginap di apartemennya. Izin dan alamat sudah didapat, tetapi arah dan tujuan entah di mana. Berbekal peta, kami mengetahui wilayah apartemen Venda. “Ah ini sih dekat, ayo kita jalan saja,” kata Julia percaya diri. Saya? Siap dong. Pesan singkat dari Venda masuk ke telepon saya. “Deket kok, 20 menit doang nyampe.”

Selangkah demi selangkah, kami pun menyusuri kota. Perasaan kami masih riang melihat kota yang baru ditemui dan menghirup udara yang segar. Jalanan di Copenhagen lebih ramai oleh sepeda ketimbang mobil. Padahal lebar jalan dua kali MH Thamrin di Jakarta. Jalur khusus sepeda pun dibuat di semua ruas jalan. Seru sekali melihat pesepeda yang tetap tampil trendi sambil mengayuh. Rok mini, tights warna-warni, boot setinggi lutut, celana khaki, scarf, coat, rok midi. Kami seperti melihat peragaan busana di jalanan. Eh, tidak terasa sudah 20 menit. Di mana apartemen Venda?

Setelah tengak-tengok ke segala sisi jalan, kami sadar kami belum sampai juga. Kami pun berjalan lagi sampai 20 menit berikutnya dan kami tetap belum sampai. Rasanya pengen duduk di trotoar saking capeknya karena punggung mulai pegal-pegal karena ransel yang terlalu berat. Barulah di menit ke 120, kami sampai di tempat Venda. Andai bisa panggil tukang pijat segera.

Sudah tahu capek, kami ngeyel mau keliling kota. Cukup urut-urut kaki 20 menit, kami sudah siap berkelana. Kali ini tanpa menggendong ransel, kami berjalan ke mana kaki membawa. Si kaki pun tanpa permisi menyeret kami berdua ke pusat kota, pinggiran kota, taman, pelabuhan, pusat perbelanjaan, dan akhirnya ke warung kopi saking lelahnya. Lagi, lagi, dan lagi kami ogah menyewa sepeda supaya tidak perlu keluar uang. Semua transaksi tinggal pakai si kartu sakti, pemberian dari sponsor baik hati.

Kami terus saja berjalan dan tidak sadar kalau kami sudah berjalan sembilan jam! Akhirnya kami kembali ke tempat Venda dan mampir ke supermarket untuk beli bahan segar buat dimasak. Hari itu rasanya senang sekali. Kaki-kaki kami ternyata tidak kalah lincah dari roda-roda sepeda. Ini sedikit dokumentasi setelah bertualang dengan si kaki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s