Kerdil

“Aku merasa kerdil.” Pesan itu sampai di Blackberry saya dari teman baik bertubuh mungil. Tapi, dia tidak sedang bicara soal postur tubuh.

Setelah lima tahun lebih bekerja di perusahaan surat kabar ternama, baru kali ini dia mengaku dirinya kerdil. Dia sudah pernah menulis dua cerita pendek yang diterbitkan secara nasional sebelum bekerja di pabrik koran. Dia punya selera baca yang bagus ketimbang beberapa jurnalis yang saya kenal. Dia masih punya keinginan menulis. Bagaimana mungkin dia merasa kerdil?

Sayalah yang harusnya merasa kerdil. Setelah mengundurkan diri dari pabrik koran, saya tidak punya penghasilan tetap. Saya kembali jadi parasit bagi orang tua saya. Sudah beberapa kali saya mengirim tulisan ke sebuah media yang berujung penolakan. Saya dihantui oleh tagihan asuransi yang membuat saya menyesali keputusan mengikuti program asuransi tahun lalu. Harusnya saya yang merasa kerdil.

Saya memang pernah merasa kerdil tahun lalu ketika saya masih berada di pabrik koran. Saat itu tiga teman saya secara bersamaan mendapat kesempatan sekolah di luar negeri. Saya teringat satu teman saya yang kini di Italia. Dia bahkan lulus lebih lama dari saya dan sempat bolos kuliah setahun. Kami sempat sama-sama bermimpi ‘melihat dunia’ suatu saat. Akhirnya dia melihat dunia.

Saya tidak sedang menyarankan semua orang untuk ke luar negeri. Sama sekali tidak. Saya hanya teringat bahwa sebelum masuk pabrik koran saya ingin melakukan banyak hal, salah satunya melihat seisi dunia. Saya menyalahkan buku-buku sejarah dunia yang dibelikan ayah saya waktu kecil sebagai salah satu penyebab saya ngebet ke luar negeri.

Saya sebetulnya iri pada teman-teman saya yang masih punya semangat untuk bermimpi kala itu. Saya hanya merasa mimpi itu sudah terlalu usang untuk dipenuhi. Saya berpikir saya seharusnya bertahan di pabrik koran demi masa depan cerah ceria. haha. Toh, akhirnya saya mengundurkan diri juga, dan berhasil melintasi separuh bumi.

Saya tidak merasa kerdil bukan karena saya sudah ke luar negeri. Saya tidak lagi merasa kerdil karena saya sudah mencoba berlari sekali lagi untuk apa yang saya percayai. Kendati setelah itu saya miskin secara finansial, tapi sungguh saya merasa telah melalui banyak hal yang mungkin tidak saya pelajari kalau saya bertahan di pabrik koran.

Sekarang saya melangkah lagi perlahan-lahan. Lebih banyak membaca kendati lebih jarang menulis haha. Besok atau lusa, saya akan tetap mencoba mengirim tulisan lain ke media lain. Kalaupun ditolak, jangan berhenti mengirim lagi.

Saya ingat Mark Twain bilang begini : “Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.”

Saya pernah menyesal. Tapi, sekarang bukan lagi saatnya. Sekarang saatnya berlayar.

Advertisements

One thought on “Kerdil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s