suara

semua orang memiliki suara, tetapi tidak semua berani bersuara

kita semua pernah berada di fase itu, kelu dan takut membuka mulut, menyuarakan apa yang ada di hati dan kepala

kita semua terlanjur takut, kehilangan posisi, jabatan, kasih sayang, perhatian, hingga uang.

saya pikir sebagian dari kita kerap merasa terlalu lancang bersuara karena kalah pengalaman, kalah usia, kalah kata, kalah senior.  dan, itu membuat kita mengatup mulut rapat-rapat, kalaupun bicara hanya iya dan iya, sembari mengangguk-angguk.

saya pernah berada di fase itu, meredam suara saya sendiri dan mengikuti suara-suara yang menyuruh saya. saya pernah di fase itu, menulis tentang sebuah daerah yang harus dibingkai agar tampak sejahtera, kendati saya tahu korupsi dan pungli menjerat pemerintah. itu seperti mengkhianati profesi sendiri karena saya seharusnya melihat secara menyeluruh apa yang terjadi, kenyataannya tidak. saya meredam suara dan menutup mata saya supaya tulisan saya tampak seperti yang diinginkan suara itu.

saya lelah. negeri ini busuk tapi masih banyak orang di luar sana yang bisa melihat dengan jernih dan berjuang dengan caranya masing-masing. lalu, mengapa kita yang merasa menyambung jutaan lidah rakyat justru kini menjilat pantat penguasa? saya percaya korupsi memiskinkan, bukan hanya secara materi, tapi merusak harapan dan niat baik di hati manusia yang paling dalam.

lalu kenapa kita tidak menulis suara-suara mereka yang melawan, yang berjuang dengan cara mereka untuk sebuah “kesejahteraan” versi mereka, bukan kesejahteraan yang dibingkai dalam angka-angka yang mudah direkayasa. hmm, mungkin karena bukan itu yang dimaui suara itu.

saya ingin bersuara saat ini, berteriak, dengan risiko sepahit apapun.

bersuaralah, kendati terdengar sumbang.