wanda

dia mengaku bernama wanda, berusia 10 tahun, kelas 4 sekolah dasar, di kecamatan mariso, kota makassar.

dia satu meter di depan saya, dengan rok merah muda mengembang, rambut pendek ikal yang ditutupi topi, melambai-lambaikan tangan kiri. motor saya pun berhenti. “tolong ki kak, ke pantai,” kata wanda langsung naik ke motor saya. dia tidak minta persetujuan, saya tidak mengiyakan pun menolak. wanda mencengkeram jaket saya keras agar tak terjatuh.

untuk pertama kalinya saya membonceng orang  asing. seringkali setiap melewati jalan tanjung bunga, beberapa anak berbaris di pinggir jalan menanti tumpangan. seorang kawan saya bilang, mereka anak-anak di perkampungan kumuh yang setiap sore kadang mengamen, mengemis, atau bermain di pantai. jarak dari kampung itu ke pantai sebetulnya tidaklah jauh. mengendarai motor berkecepatan 60 kilometer per jam, saya bisa melipat jarak menjadi lima menit. tentu bagi wanda, ini jarak yang akan melelahkan kaki mungilnya.

perjalanan lima menit bersama wanda tertanam di kepala saya. saya seringkali berkunjung ke kampung tempat tinggalnya, sebuah kawasan kumuh yang penduduknya mayoritas adalah nelayan. saya ke sana untuk bermain ke SOKOLA, sekolah pesisir yang dirawat oleh relawan-relawan baik hati. murid-murid di sana berbau keringat dan nakal luar biasa. tapi, kita tidak bisa membenci seorang anak hanya karena dia bau dan nakal, bukan?

wanda meminta saya berhenti di depan sebuah warung bakso. entah siapa yang dia temui. saya berlagak bijak, meminta dia tidak mengamen dan mengemis. sungguh petuah bodoh, karena membantu dia saja saya tidak mampu. dia turun dari atas motor sambil memegang bahu saya, mengucapkan terima kasih, lalu berlari tanpa menoleh lagi. saya pun melaju.

dari banyak rentetan peristiwa yang begitu acak, ada kalanya sebuah momentum tiba. momentum itu yang kemarin saya rasakan dalam perjalanan lima menit bersama wanda. setelah setahun di makassar dan takut memberi tumpangan pada anak-anak mariso, akhirnya saya membonceng wanda. ada perasaan tak lagi takut, khawatir, dan bersiap untuk sebuah risiko. wanda seperti sebuah kesempatan yang sebetulnya terus hadir di tepi jalanan, namun selama ini saya tak pernah memperhatikannya.

momentum itu mungkin yang membuat lambaian wanda dan roda-roda motor saya akhirnya berkonspirasi untuk menemukan titik untuk berhenti di persimpangan, memilih, dan melanjutkan perjalanan.

saya melanjutkan perjalanan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s