menunggu

hidup itu katanya hanya soal menunggu mati. kalau begitu, mengapa kita sering menjebak diri dalam penantian tak pasti?

saya kerap menunggu dan pekerjaan saya juga menuntut saya untuk menunggu dalam berbagai kesempatan.

maka, di sinilah saya: sebuah ruang tunggu imajiner. saya bisa melihatmu lalu-lalang, orang tergesa, perahu berlayar, berita berubah dalam hitungan detik, sampai ampas kopi tersisa.

entah apa yang saya tunggu. tapi hati saya mengatakan bahwa saya tengah menunggu. entah apa yang akan saya lakukan ketika yang saya tunggu akhirnya menghampiri. apa yang akan terjadi kalau penantian ini tidak berujung di manapun? akankah saya akan tetap di ruang ini, menggambari turus-turus di pikiran, atau saya memutuskan menghentikan semua ini?

saya pikir saya keluar dari ruang tunggu, ternyata saya masih di dalamnya. semua tergesa dan banyak jejak tersisa. itu alasan saya masih menunggu. untuk sebuah kenaifan terakhir yang mungkin akan saya lupakan. untuk jejak-jejak yang saya rangkai jadi cerita.

ya, saya menunggu. tapi, apa yang terjadi bila yang saya nanti tak jua menghampiri?

selama apa saya harus menunggu? selama apa? selamanya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s