jeda

saya menyebutnya monthly-monstrous-visit.

ini mungkin berlebihan, tapi begitulah saya merasakan menstruasi bulanan. kebanyakan pria sebal karena perempuan memakai periode ini sebagai pembenaran untuk bertingkah menjengkelkan dan tidak konsisten. wah, masalahnya saya sudah menjengkelkan dan tidak konsisten kalaupun tamu bulanan ini belum mampir.

pria kerap menilai perempuan melebihkan isu ini. berlebihan? ya, misalnya seperti menuliskannya di jejaring sosial pun mengucapkannya dengan keras di depan umum. seakan-akan bila ini terucap, perempuan akan mendapatkan perlindungan ekstra hari itu. haha.

tapi, percayalah, menstruasi adalah ‘karakter’ penting dalam semesta perempuan. kamu seperti melihatnya bergerak dalam perutmu, dari hanya bak kedutan malu-malu sampai cengkeraman monster. tapi yang paling menyeramkan adalah ketika dia bak memarut-marut seluruh dinding rahimmu. ah, kalian pria akan sulit membayangkannya.

menstruasi seperti karakter yang terus tumbuh dan berkembang dalam sebuah cerita. awalnya dia tenang dan peragu seperti anak baru sebelum pelan-pelan menjadi psikopat dengan emosi yang naik-turun. ya, ia membuatmu menangis tanpa alasan, tenggelam dalam melankolia, lalu mendadak bahagia, sebentar menjadi rakus, sebelum akhirnya tak bernafsu pada apapun.

dia jelas bukan seseorang, tetapi dia tumbuh dalam dirimu, menyetirmu, menguasai dirimu. sepekan dalam sebulan, kamu tidak punya pilihan selain menerimanya ‘menjadi’ dirimu.

bagi saya, masa ini menjadi semacam jeda. saya akan lebih banyak diam menahan sakitnya. dalam jeda, saya seperti merasakan dia bak membawa tombak untuk sesekali menusuk ke dinding rahim kiri, kanan, sebelum menari hula-hula kesenangan atas diri saya. ooh teganya dirimu.

jeda itu akan membuatmu kembali lebih mengenali tubuhmu, dirimu, dan semua pilihan yang kamu buat. kamu mungkin bersyukur masih tetap bisa menstruasi ketimbang suatu saat dia tak pernah datang lagi. itu akan lebih menyeramkan.

dan, di jeda kali ini, entah mengapa saya senang bisa bertahan.

bertahan dari sebuah kesakitan, dengan sebuah kenangan, lalu melangkah ke depan pelan-pelan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s