berjalan

hari jumat mengundang saya ke pantai, tempat passandeq membuang sauh setelah empat ratus kilometer pelayaran.

saya berjalan sendirian di sebuah sore pukul 4.  eh sebelum berjalan, saya memesan pallu butung di sebuah toko yang dikelola pasangan keturunan tionghoa.  “susunya jangan banyak-banyak,” cetus saya. dalam dua menit, pesanan tiba dalam rupa sempurna. irisan pisang sembunyi malu-malu di bongkahan es yang bak gunung mengamuk menyemburkan sirup campolay.

barulah saya berjalan, menyusuri trotoar yang tahunan lalu adalah lautan. semua telah dibeton : lautan, hutan, ladang, dan besok mimpimimpi kita. ah, saya mulai melantur.

sudah lama saya tidak berjalan kaki. dulu di yogyakarta, saya bisa berjalan berjamjam sambil bicara dengan kawan baik saya. saya bisa berjalan dari pagi hingga pagi lagi, membual tentang apa saja. tapi, mari berhenti. terlalu banyak nostalgia bisa membunuhmu.

di sore tadi saya berjalan lagi dengan ransel yang berat dan panas yang menjerat. saya suka musim panas, tetapi kemarau kali ini begitu ganas. saya bukan kaktus, tak bisa terlalu lama bertahan di medan tandus. saya berjalan di tengah mereka yang duduk pun lalu-lalang. di sisi kiri saya jalanan dan di sisi kanan saya lautan. ke manakah kepala saya menoleh? tentu lautan.

layar sandeq yang terkembang ditiupi angin. dari kejauhan barisan sandeq mulai mendekat dan bersiap membuang sauh. pada seorang penjelajah itu saya beroleh cerita. mereka datang dari mamuju, sebuah kabupaten di sulawesi barat. festival membuat mereka datang ke mari, dalam pelayaran sembilan hari dan tujuh perhentian. ini malam mereka akan kembali. artinya kembali pula ke rutinitas mereka untuk bertarung dengan lautan, mencari ikan sebagai mata pencaharian.

saya ingin ikut mereka, mengarungi lautan yang entah akan mengujimu sekeras apa. saya ingin mengerti arti keringat yang harus turun untuk sebuah perjalanan yang mungkin tidak berarti apa-apa. saya ingin bersorak ketika angin mengiringi laju perahu dan malam menurunkan resah tak bernama. ah, saya melantur lagi.

saya hanya berjalan, memandangi para penjelajah yang melepas penat dengan menghisap sebatang rokok.  matahari sudah tampak seperempat saja. saya berjalan kembali dengan ngilu di dada. saya bingung mendeskripsikannya.

saya memandang mereka yang berlayar. kita bisa menuju ke semua pelosok dunia namun tetap menjadi jumud. kita bisa bertahan di satu titik saja di sebuah dunia dan tetap menjadi jumud. saya tidak mengerti kenapa beberapa manusia bisa begitu jumud.

saya memutuskan kembali dari pelesiran singkat ini. saya berjalan pelan-pelan kali ini untuk merekam semua yang menempel di indera saya. saya ingin selalu berjalan, ya ingin berjalan, dengan semua pintupintu yang terbuka, untuk menyongsong apa saja. bahkan untuk kepahitan yang begitu rumit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s