nirvana

saya tidak tahu rupa nirvana dan saya berhenti mencarinya.

empat tahun silam ketika masih bertugas di yogyakarta, saya punya tempat favorit untuk berdiam. yah, tidak sepenuhnya berdiam karena biasanya tangan dan mulut saya berkolaborasi memegang dan mengunyah donat.

saya bertugas di kepatihan, ‘bengkel’ kerja-nya sultan. sekitar pukul 15.30, saya akan langsung memacu motor saya ke alun-alun utara. jika datang dari arah utara kantor pos, segera ambil tikungan ke kiri, lalu parkirlah di depan gerobak kedua dari pertigaan. nah, itu ibu donat langganan saya. entah mengapa saya memilih dia, yang jelas saya tidak kecewa.

saya akan mencomot donat yang panas berkilat baru diangkat dari wajan lalu memesan teh botol. si ibu sigap menyodorkan kursi plastik warna biru. dalam diam saya mengunyah pelan-pelan sambil memandangi orang-orang yang kadang berolahraga di alun-alun, menerbangkan layangan, atau sekadar berlatih mengendarai motor.

si ibu tidak pernah banyak bicara. dia tidak bertanya nama, asal, dan mengapa saya sendirian selalu. saya nyaman dengan itu.  perasaan terserap dengan diri sendiri di tengah sore yang cantik itu bagi saya adalah sebuah nirvana kecil.

pun di hari ini, saya melaju ke anjungan Pantai Losari. niat saya memotret para penerjun payung, tapi foto saya gagal semua. akhirnya saya hanya memencet shutter demi mematuhi gerak tangan saja. sisanya, saya tertawa-tawa melihat penerjun yang mendarat darurat di air, ah ya ada penerjun yang bahkan mendarat di trotoar! saya tertawa-tawa bersama ratusan orang dengan logat yang semakin saya sukai itu.

saya tersenyum pada banyak orang. ah, semoga mereka tidak geer. saya berkeliling anjungan saja membiarkan matahari di musim kemarau ini menambah bintik coklat di pipi saya. angin ini, yah ini angin yang jahat yang membuat para penerjun hilang kendali. tapi, ini angin yang bandel yang membuat rambut ikal saya menari-nari ke sana ke mari.

saya duduk di panggung di tengah anjungan. hari ini saya juga pakai baju biru. satu keluarga menyusul langkah saya dan bicara begitu lucu. si anak perempuan bandel bukan main dan mendadak dia menangis. si ibu pun bicara “eee ko jangan nangis, nanti didatangi bule pakai terjun payung”. sungguh saya tidak mengerti apa maksud si ibu.

saya duduk lama melihat semua bergerak. bayangan kaki-kaki seperti beradu ditempat matahari. penerjun pelan-pelan turun kembali dan kali ini mereka semua mendarat dengan tepat. ini perasaan yang begitu nyaman dan hangat. tidak ada kekhawatiran dan ketakutan pun harapan yang berlebihan.

saya selalu menggambarkan keadaan ini seperti sebuah sore yang magis di seuntai puisi Pablo Neruda. semua sisi semesta bicara dan saya membuka gerbang semua indera. inilah nirvana kecil saya.

dia menghampiri ketika saya berhenti mencarinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s