angin

angin menerbangkan segala, tetapi tidak kenangan.
dan, di sanalah aku meraba kembali yang pernah terjadi. mungkin kau juga terlempar ke masa lalu ketika semua terasa begitu baru.
malam tampak begitu cepat turun di tempat ini, secepat kabut-kabut. kita saling bicara tentang apa saja, sebagai manusia dengan masa lalu yang misterius. kota-kota di semua benua seakan meluncur dari mulut kita dan kita seakan berada di sana.
tetapi kita di sini, di sebuah tempat yang mungkin terlupakan di peta. kita menjalin kenangan hari ini dan mencoba mendamaikannya dengan masa lalu yang beku.
adakah semua berhasil? aku tak tahu. mungkin semua awalnya seperti sebotol bir dingin yang menyegarkan tenggorokan. perlahan, semua buih menghilang dan hanya pahit yang terasa.
kita bertemu untuk saling berpisah. kita mengenal untuk saling melupakan. mungkin karena itu pula, aku tak menyibak semua rahasia, karena semuanya akan terasa sia-sia.
ribuan detik setelah masa itu, angin masih bertiup. aku menengok masa lalu dan kau mungkin menyongsong masa depan. kita tidak pernah bertukar apapun, kecuali sebonggol cerita.
angin kali ini pun tidak berhasil menghapuskan semua cerita.
tetapi cerita hanyalah cerita.

rinding allo

gugur sunyi

20 September. di sebuah petang nan sunyi, saya jatuh cinta kembali.

kami menempuh jarak 58 kilometer dari Masamba, sebuah kabupaten di Luwu Utara, Sulawesi Selatan. tadinya saya mengira ini bisa ditempuh dalam waktu satu jam. salah besar! Masamba-Limbong dipisahkan jalanan rusak berbatu yang membuat hanya kendaraan bergardan ganda yang bisa lewat. jadilah, saya dan ratusan peserta diangkut dengan truk.

kami terguncang-guncang seperti benda mati. tapi perjalanan jahanam ini menawarkan pemandangan luar biasa : aliran sungai dan jembatan-jembatan bambu, bukit-bukit yang bak memayungi semesta, senyum penduduk di sepanjang jalan. saya jadi membayangkan sebuah rumah di tepi sungai dengan senyum yang selalu mengembang untuk saya.

ini perjalanan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. saya tidak berpikir bahwa saya ada di fase ini. terlalu banyak cerita terpatri di kepala saya, tetapi begitu terbatas kata-kata yang mampu saya eja.

di Rinding Allo kami tiba, sebuah desa di Limbong, salah satu kecamatan terpencil di Luwu Utara. pegunungan Verbeek yang rapat, kabut tebal, ladang dan sawah berlapis, jalan-jalan mendaki, mentari tersipu dibalik bukit.  ini surga.

listrik tak ada, sinyal  juga. dingin menusuk-nusuk dan saya salah kostum karena berpikir kemarau turun di Luwu Utara. akibatnya adalah bencana. lutut bergetar, gigi gemeretak, dua lapis sarung dan selimut tak jua menghangatkan. ah, saya jadi ingin sebuah pelukan.

bintang seperti taburan kapur di papan tulis. di malam hari kami menarik Dero, bergandengan tangan, membentuk lingkaran, mengikuti musik yang berganti cepat, menggerakkan kaki yang sudah lupa cara berpesta. kami selalu kedinginan, perut selalu kenyang, dan hati selalu berseri.

bagaimana cara menggambarkanmu Rinding Allo? yang terasa, ketika meninggalkanmu, saya merindu.  terlalu banyak cerita, terlalu terbatas kata-kata. ah, mungkin karena terlalu singkat maka semua terasa menyenangkan.

yang singkat. ya, yang singkat itu yang terus terpatri hingga berkarat.

berjalan

hari jumat mengundang saya ke pantai, tempat passandeq membuang sauh setelah empat ratus kilometer pelayaran.

saya berjalan sendirian di sebuah sore pukul 4.  eh sebelum berjalan, saya memesan pallu butung di sebuah toko yang dikelola pasangan keturunan tionghoa.  “susunya jangan banyak-banyak,” cetus saya. dalam dua menit, pesanan tiba dalam rupa sempurna. irisan pisang sembunyi malu-malu di bongkahan es yang bak gunung mengamuk menyemburkan sirup campolay.

barulah saya berjalan, menyusuri trotoar yang tahunan lalu adalah lautan. semua telah dibeton : lautan, hutan, ladang, dan besok mimpimimpi kita. ah, saya mulai melantur.

sudah lama saya tidak berjalan kaki. dulu di yogyakarta, saya bisa berjalan berjamjam sambil bicara dengan kawan baik saya. saya bisa berjalan dari pagi hingga pagi lagi, membual tentang apa saja. tapi, mari berhenti. terlalu banyak nostalgia bisa membunuhmu.

di sore tadi saya berjalan lagi dengan ransel yang berat dan panas yang menjerat. saya suka musim panas, tetapi kemarau kali ini begitu ganas. saya bukan kaktus, tak bisa terlalu lama bertahan di medan tandus. saya berjalan di tengah mereka yang duduk pun lalu-lalang. di sisi kiri saya jalanan dan di sisi kanan saya lautan. ke manakah kepala saya menoleh? tentu lautan.

layar sandeq yang terkembang ditiupi angin. dari kejauhan barisan sandeq mulai mendekat dan bersiap membuang sauh. pada seorang penjelajah itu saya beroleh cerita. mereka datang dari mamuju, sebuah kabupaten di sulawesi barat. festival membuat mereka datang ke mari, dalam pelayaran sembilan hari dan tujuh perhentian. ini malam mereka akan kembali. artinya kembali pula ke rutinitas mereka untuk bertarung dengan lautan, mencari ikan sebagai mata pencaharian.

saya ingin ikut mereka, mengarungi lautan yang entah akan mengujimu sekeras apa. saya ingin mengerti arti keringat yang harus turun untuk sebuah perjalanan yang mungkin tidak berarti apa-apa. saya ingin bersorak ketika angin mengiringi laju perahu dan malam menurunkan resah tak bernama. ah, saya melantur lagi.

saya hanya berjalan, memandangi para penjelajah yang melepas penat dengan menghisap sebatang rokok.  matahari sudah tampak seperempat saja. saya berjalan kembali dengan ngilu di dada. saya bingung mendeskripsikannya.

saya memandang mereka yang berlayar. kita bisa menuju ke semua pelosok dunia namun tetap menjadi jumud. kita bisa bertahan di satu titik saja di sebuah dunia dan tetap menjadi jumud. saya tidak mengerti kenapa beberapa manusia bisa begitu jumud.

saya memutuskan kembali dari pelesiran singkat ini. saya berjalan pelan-pelan kali ini untuk merekam semua yang menempel di indera saya. saya ingin selalu berjalan, ya ingin berjalan, dengan semua pintupintu yang terbuka, untuk menyongsong apa saja. bahkan untuk kepahitan yang begitu rumit.

nirvana

saya tidak tahu rupa nirvana dan saya berhenti mencarinya.

empat tahun silam ketika masih bertugas di yogyakarta, saya punya tempat favorit untuk berdiam. yah, tidak sepenuhnya berdiam karena biasanya tangan dan mulut saya berkolaborasi memegang dan mengunyah donat.

saya bertugas di kepatihan, ‘bengkel’ kerja-nya sultan. sekitar pukul 15.30, saya akan langsung memacu motor saya ke alun-alun utara. jika datang dari arah utara kantor pos, segera ambil tikungan ke kiri, lalu parkirlah di depan gerobak kedua dari pertigaan. nah, itu ibu donat langganan saya. entah mengapa saya memilih dia, yang jelas saya tidak kecewa.

saya akan mencomot donat yang panas berkilat baru diangkat dari wajan lalu memesan teh botol. si ibu sigap menyodorkan kursi plastik warna biru. dalam diam saya mengunyah pelan-pelan sambil memandangi orang-orang yang kadang berolahraga di alun-alun, menerbangkan layangan, atau sekadar berlatih mengendarai motor.

si ibu tidak pernah banyak bicara. dia tidak bertanya nama, asal, dan mengapa saya sendirian selalu. saya nyaman dengan itu.  perasaan terserap dengan diri sendiri di tengah sore yang cantik itu bagi saya adalah sebuah nirvana kecil.

pun di hari ini, saya melaju ke anjungan Pantai Losari. niat saya memotret para penerjun payung, tapi foto saya gagal semua. akhirnya saya hanya memencet shutter demi mematuhi gerak tangan saja. sisanya, saya tertawa-tawa melihat penerjun yang mendarat darurat di air, ah ya ada penerjun yang bahkan mendarat di trotoar! saya tertawa-tawa bersama ratusan orang dengan logat yang semakin saya sukai itu.

saya tersenyum pada banyak orang. ah, semoga mereka tidak geer. saya berkeliling anjungan saja membiarkan matahari di musim kemarau ini menambah bintik coklat di pipi saya. angin ini, yah ini angin yang jahat yang membuat para penerjun hilang kendali. tapi, ini angin yang bandel yang membuat rambut ikal saya menari-nari ke sana ke mari.

saya duduk di panggung di tengah anjungan. hari ini saya juga pakai baju biru. satu keluarga menyusul langkah saya dan bicara begitu lucu. si anak perempuan bandel bukan main dan mendadak dia menangis. si ibu pun bicara “eee ko jangan nangis, nanti didatangi bule pakai terjun payung”. sungguh saya tidak mengerti apa maksud si ibu.

saya duduk lama melihat semua bergerak. bayangan kaki-kaki seperti beradu ditempat matahari. penerjun pelan-pelan turun kembali dan kali ini mereka semua mendarat dengan tepat. ini perasaan yang begitu nyaman dan hangat. tidak ada kekhawatiran dan ketakutan pun harapan yang berlebihan.

saya selalu menggambarkan keadaan ini seperti sebuah sore yang magis di seuntai puisi Pablo Neruda. semua sisi semesta bicara dan saya membuka gerbang semua indera. inilah nirvana kecil saya.

dia menghampiri ketika saya berhenti mencarinya.

merawat

saya tidak lahir dengan keterampilan merawat.

merawat tampak begitu pelik. saya membayangkan sebuah benih yang tumbuh hingga menjadi bunga. setiap detik pertumbuhan hingga mahkota dan dedaunan mekar terasa magis. kau bisa melihatnya merona tanpa pernah menyaksikan setiap inci tumbuhnya. tetapi, mereka yang merawat akan merasakannya. dia akan menyadari setiap kehidupan yang berbeda dari apa yang dia rawat.

saya tidak pernah merawat mimpimimpi saya. untuk hal yang paling sederhana, saya tidak merawat kegemaran saya. semua yang saya gemari datang silih berganti saja tanpa pernah terpatri. saya merasa kehilangan jejakjejak dari apa yang saya jalani.

saya senang menulis. tetapi saya tidak merawat setiap keping tulisan itu dengan baik. saya tidak menyimpannya seperti sebuah harta karun berharga. ketika saya menengok ke belakang, betapa banyak aksaraaksara yang sudah saya tuangkan di kertas hingga tisu toilet. saya kehilangan kamu semua.

kemarin, peringatan meninggalnya Munir. semua orang berupaya agar kasus ini tidak pernah dilupakan oleh kita yang masih mengingat. Milan Kundera pernah berkata bahwa perjuangan paling sulit adalah perjuangan melawan lupa. saya selalu cinta karyanya. sebenarnya, kau boleh memilih lupa. kau boleh dan itu hakmu.

saya memilih mengingat dengan cara paling sederhana. saya ingin mengingat dan merawat keping kenangan saya. setiap hari. mungkin itu sebabnya sejak kemarin saya menulis dan (berharap) akan terus menulis setiap hari. saya ingin mengingat dan merawat kembali. saya ingin menengok ke belakang dan melihat jejakjejak, karena saya percaya pada kata ini : pulang.

saya, kau, dan kita semua akan pergi. memori ini juga pergi atau aus digerus riuhrendah waktu. ke manapun pergi, suatu saat kita kan pulang, ke tanahtanah, udara, pun akarakar yang dulu bersemangat menyongsong benihbenih baru.

Munir berpulang dan kita mengingat.

saya berjalan sembari merawat benihbenih yang bisa diselamatkan.

selamat merawat.

halo

hai kau orang asing!
saya pikir hidup akan berhenti di hari senin dan sisanya adalah pengulangan dan kepurapuraan. maka, saya berikhtiar untuk berhenti berusaha. berusaha adalah masa lalu.
maka di rabu yang purapura saya berpikir tak ada salahnya bangun lebih pagi, berkawan dengan kantuk yang berkarat di pelupuk. ahya, jangan lupakan sarapan. mari menjadi sesuatu yang bukan dirimu di hari rabu. saya bukan pecinta sarapan.
mari melaju seperti para pemburu ke tempat-tempat baru. saya pun berangkat dengan apel di perut dan kosong di kepala. di tanahtanah yang retak dan angin kering musim kemarau, di ladang jagung dan sekam padi terbuang, ada asing yang mengintai. ini bukan tanah saya.
tapi ini rabu, mari berada di tempat yang bukan milikmu. maka melajulah, terus melaju, ke tanggul-tanggul gantung tempat belasan bocah membenamkan kaki dan kepala.
apakah air musim kemarau seperti rahim ibu, yang membuat kita begitu rindu? kalian tertawatawa mengajak saya ikut serta. hei, gigimu tanggal dan hei celanamu ke manamana. kalian tertawa saja dan menariknarik tanganku. kalian adalah frida, rahmi, anto, dan nama, nama, serta nama lain yang tak mampu saya ingat segera.
dengan tangan basah, kalian mendekat menyalami dan menciumi tanganku. kalian bertanya siapa saya, dari mana saya, dan mau apa saya. tapi kalian tampak tidak peduli dengan semua kebenaran yang akan saya sampaikan. kalian sudah berbahagia melihat si orang asing datang di sebuah siang yang terik di sebuah perbatasan yang ramai.
ya, saya pun berbahagia. kalian menyapa saya lebih bahagia dari siapapun yang pernah menyapa saya sebulan terakhir. kalian sekoci untuk saya yang karam. kalian ucapan ulang tahun di penghujung hari. kalian tamu jauh dengan sejuta cerita. kalian lembar-lembar daun kering di rumput saya. untuk kalian yang asing yang menghidupkan semua sumbu, saya menghadiahi sebuah kebenaran hari ini. maka saya pun menjawab, “halo, saya maria. dari makassar. dahhh.”

toska

saya berada di dasar segalanya.
ini bukan tempat yang gelap, dingin, pun lembab. ini lebih buruk karena kau tidak bisa merasakan apa-apa di sini. ini adalah ketiadaan, tanpa friksi, aksi, pun motivasi. yang paling buruk bukanlah kehancuran tetapi ketidakmampuan untuk merasakan apa-apa lagi.
ya, di sanalah saya. tidur dan bangun dengan enggan.
saya mencoba menggali sepercik semangat dari manapun. dari cerita tentang mereka yang berkelana, dari musik, buku, film, dari semua imajinasi lama. itu semua tidak membantu. tawa saya kering dan saya berjalan seperti zombie.
saya berada di dasar segalanya.
Vladimir Nabokov mungkin menyebut perasaan ini sebagai “toska”.
saya berada di dasar segalanya dan saya ingin dengan perlahan menaiki semua tangga yang ada.
mungkin dengan begitu saya bisa kembali merasa, tentang lelah, perih, keringat, dan ekstase yang sudah saya lupa.
toska, kau punya nama yang indah.
tapi, saya tidak mau selamanya di sana.