hilang

ini klise tapi benar adanya : kamu baru menyadari sesuatu berharga setelah kehilangan.
ini tentang makuku, anjing kami yang berayah kuplit si doberman dan popo si peking. entah mengapa namanya makuku, entah pernah ada nominasi nama macam apa untuk menyambut kelahirannya. tapi, kalau dipikir-pikir, ini nama yang tidak bias gender (doh!). kamu tidak bisa menebak apakah dia betina atau jantan dari namanya. well, dia betina. dan perawan seumur hidupnya.
makuku punya bulu seperti benang katun putih kecoklatan. dia tinggal di atas genteng magenta rumah kami. matanya selalu sayu, hidungnya selalu basah. dia kami takdirkan sebagai anjing penjaga. dia menggonggongi semua tamu yang datang. dia menyalak menyambut ayah-ibu yang akan datang sepuluh menit berselang.
genteng adalah rumah makuku dan langit cihanjuang adalah semesta angkasanya. dia sendirian menghadapi hujan dan petir tanpa selimut dan kawan. entah bagaimana dia bertahan selama 13 tahun hidupnya dengan dingin dan sepi yang menganga. bayangkan jika itu terjadi pada seorang manusia, hidup seorang diri selama 13 tahun dengan 24 jam penuh hanya berkawan sunyi dan lalat dan nyamuk malam.
kami semua terbiasa mendengar salakannya. saya masih bisa mengingat masamasa kuliah di yogyakarta. saya hanya pulang empat kali setahun ke rumah. dan setiap pulang, makuku menyambut dengan salakannya yang galak dan melengking. dia minta ditemui.
dan saya memang rindu menghabiskan waktu bersamanya. saya teringat masa kecil ketika saya baru berusia 13 tahun. saya malas berkawan. ya, saya memang punya bakat menyebalkan. saya berpikir hanya makuku yang mengerti. maka, ke genteng saya menuju berbaring ditemani makuku. baiklah, saya akan mengakui ini : saya berbicara dengan makuku. mengobrol seperti dia bisa mengerti apa racauan saya. i seemed mental, aight? entahlah, tapi saya selalu merasa dia mengerti. dia menangkap semua emosi yang saya tularkan. dia akan mengibaskan ekor lalu mengedipkan mata sendunya berkalikali.
pun terakhir kali saya pulang ke rumah. di pertengahan juli sepulang dari india. saya sudah mendengar kabar ini jauhjauh hari, makuku hampir mati. dia tak lagi makan pun minum. dia menolak didekati. untunglah ketika saya pulang, dia sedang bersemangat. kakinya sudah pincang, matanya berair dan dia bak menularkan melankolia yang begitu pekat. saya menangis.
kepulangan terakhir, saya masih sempat memotretnya, mengajaknya menghabiskan matahari pagi, melompatlompat seperti belasan tahun lalu. saya berbisik padanya “hey, tunggu aku di bulan desember ya. jangan mati dulu.”
pagi di awal agustus, saya menyambangi ibu kota. pesan singkat masuk dari kakak saya. kabar yang sampai saat ini masih membuat saya terus berkacakaca. kabar pergimu, makuku.
kata mereka, malamnya kau masih bernyawa kendati terus menggeram. napasmu mulai habis. dan di pagi hari, mereka menemukanmu di genteng itu terkulai dengan lidah keluar. mungkinkah kau sedang berjalan entah ke mana dan kematian tanpa peduli menjemputmu paksa?
rumah sedang kosong saat itu. jadi mereka memutuskan menguburkanmu keesokan harinya. dan di taman depan kamilah akhirnya mereka membaringkanmu. dibungkus kain putih dan diiringi sepi yang mereka tak tahu apa. ada yang hilang dari rumah itu yang hanya bisa kami mengerti.
pekan lalu aku pulang, makuku. kembali ke rumah yang tak lagi sama. tempat pembaringanmu sudah rimbun. rumput dan ilalang tumbuh menyelimuti kuburmu. aku dan kakakku tak henti membicarakanmu, seperti berbicara tentang kawan masa kecil yang paling setia.
kamu adalah pelarian ketika semua manusia dan segala isinya memuakkan. aku jadi ingat seorang kawan yang bicara begini : hubungan manusia dengan binatang menguji semanusiawi apa manusia.

ah, kami belum jadi manusia mungkin karena mengabaikanmu bertahun-tahun.
di taman tempatmu berbaring juga pernah ada katrin, kanto, rambo, doris, popo, dan banyak anjing-anjing lain yang mengisi masa kecil kami. ah, tapi kamu kawan yang paling lama bersama kami. aku melihat lahirmu tapi mungkin tak akan cukup berani untuk melihat matimu yang tragis.
kalau memang George Orwell benar, maka kau akan berada di Sugarcandy Mountain saat ini. tidak ada lagi hujan dan petir pun sepi, kawan.
dan, kami? kami masih bergumul dengan kehilangan dan rasa bersalah yang absurd ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s