sunyi

empat perhentian, satu ingatan.

di kota masa lalu aku berlabuh, membuang sauh. aku berharap ini saatnya jeda dari segala peluh dan keluh.

ah ya, kamu masih tersenyum sama teduhnya seperti dulu. di terangmu aku menatapi puncak gunungmu, di gelapmu aku mencumbu lagi batubatu.

kamu membawa angin kering bulan juni. ya, juni itu selalu menjadi transisi. antara yang hidup dengan yang mati. antara yang datang dengan yang pergi. tak terkecuali kali ini.

hai, aku kembali. dengan setumpuk memori dan imaji. dengan mimpi yang kian tinggi. dengan sunyi tak terperi.

sunyi. kau pun pernah memberiku ini. rasa yang tak terpermanai, hinggap tanpa permisi.

kita ini manusia dengan lubang di jiwa, tanpa punya sesuatu apapun untuk menambalnya.

sendiri, aku memacu si roda dua. melayari lagi semua cerita. melankolia…

aku selalu pergi, tapi tak pernah mampu melepas pergi. pun kali ini, aku menolak gravitasi.

dandelion, harusnya aku sepertimu. terbang pergi tak kembali. berakar dan berbahagia di tempat terjanji.

sayangnya, aku angin, merindu helaihelaimu menghampiri. di semesta yang teramat sunyi.

sunyi, bantu memori untuk alpa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s