Bocah-Bocah Kosmetik Kota

bernostalgia lagi dengan tulisan tiga tahun lalu, ketika semangat bermain-main masih panas-panasnya.

    Semua kota punya lorong gelap masing-masing. Dari jalanan 
beraspal, gang sempit, sampai rumah berimpit di bantaran kali. Ya, 
semua kota punya tombak kemiskinan yang menohok tepat di jantungnya 
sendiri.
    Salah satu kemiskinan itu berwajah Angga, bocah kurus berusia 6 
tahun. Sore di perempatan jalan sebuah toko buku besar adalah taman 
bermainnya. "Korannya, koran, seribu," teriaknya. 
    Seorang bapak menghampiri, menyodorkan lembaran seribuan rupiah. 
Tangan kecil Angga menyambut, koran pun berpindah tangan. "Yeeee..," 
teriaknya sambil berlari kecil menuju teman-teman sepermainannya.
    Selamat datang di taman bermain bernama jalanan! Ini taman 
paling ganas dan gersang di kota, tempat Angga, Novi, dan pengasong-
pengasong  koran cilik bermain menjadi "pekerja".
    Setiap pukul 14.00 mereka menyambangi jalanan. Angga pun 
bercerita tentang jadwal hariannya. "Habis pulang sekolah jam 11 
atau jam 12. Pulang dulu ke rumah, makan. Terus jualan koran di 
sini," tuturnya.
    Ibarat pabrik, Angga bisa jadi buruh yang bekerja pada seorang 
tuan, yang disebutnya juragan. Si juragan ini menyediakan koran-
koran yang harus habis dijual.
    "Aku biasanya ambil 15 lembar," ujar Angga. Kalau semua laku 
terjual, Angga bisa bawa pulang uang Rp 3.000. Kadang pun, Angga 
mengambil jatah 20 lembar, kalau laku semua, untungnya Rp 5.000.
    Untuk apa Angga cari duit? "Untuk bantu ibu bayarin sekolah," 
jawab bocah kelas I SD Bhinneka ini. Lembar demi lembar uang yang 
dijejalkan ke sakunya semua diserahkan pada ibunya yang sudah 
menjanda.
    Jalanan beraspal di bawah terik mentari adalah neraka, apalagi 
bila mesin motor meraung dan klakson mobil membabi buta. Tetapi,  
jalanan adalah surga bagi Angga. Di sini ia bermain bersama saudara 
dan kawan-kawan baru.
    "Itu kakak saya." Telunjuknya berhenti pada sosok perempuan 
kecil kurus dengan kulit terbakar. Novi, sosok itu, juga pengasong  
koran. Bahkan, pengalaman kerjanya sudah lebih panjang. "Sudah jual 
koran mulai TK," kata Novi yang kini  kelas IV SD Muhammadiyah.
    Dua bersaudara ini tinggal di permukiman di bantaran Kali Code. 
Pergi-pulang, cukup jalan kaki. Bedanya, pergi ke jalanan dengan 
gairah, pulang dengan lelah.
    Suka kerja seperti ini? "Suka, banyak teman. Di rumah gak ada 
siapa-siapa," kata Novi yang kelak ingin jadi dokter. 

Perlindungan
    Angga, Novi, dan pengasong-pengasong kecil lain membukakan mata 
tentang masalah pekerja anak. Seorang anak, menurut Undang-Undang 
Nomor 23 Tahun 2002  tentang Perlindungan Anak, adalah seseorang 
yang belum  berusia 18 tahun termasuk yang masih berada di dalam 
kandungan.
    Mengapa mereka ke jalanan? Dalam buku Pekerja Anak di Indonesia, 
Usman dan Nachrowi menuliskan, anak-anak yang bekerja di usia dini 
biasanya berasal dari keluarga miskin, umumnya terabaikan 
pendidikannya. Inilah yang terus melestarikan kemiskinan, menjebak 
pekerja-pekerja muda ini dalam pekerjaan tak terlatih dan upah 
sangat buruk. 
    Mereka pun tanpa sadar menjadi bagian dari lingkaran setan 
kemiskinan. Pilunya, bocah-bocah ini dengan riang menyongsong 
jalanan setiap hari. Begitu gandrungnya mereka kembali ke jalan, 
hingga seakan menjadi bagian dari "kosmetik" kota.
    Namun, beberapa waktu belakangan isu Rancangan Peraturan Daerah 
tentang Penanganan Gelandangan, Pengemis dan Perlindungan Anak yang 
Bermasalah di Jalanan mencuat. "Kosmetik" kota ini, naga-naganya, 
hendak dihapus untuk menunjukkan wajah kota yang  katanya akan jadi 
lebih cantik itu. 
    Lalu, ke mana Angga akan bermain? Bisakah Novi jadi dokter? 
Raperda itu, yang entah kapan rampung dibahas, bisakah menjadi titik 
temu bagi mimpi-mimpi pekerja-pekerja yang terlalu dini menjadi 
upahan?
    "Aku gak mau terus jualan kok," kata Novi tiba-tiba. Betul, dia 
mau jadi dokter. Pernyataannya ibarat cahaya di ujung lorong yang 
memastikan bahwa besok pasti lebih baik. Tapi, Novi  tak sendiri.
    Seharusnya ada banyak tangan juga yang mendorongnya agar mampu 
sampai di ujung lorong. Perlindungan, dari siapa pun, kemudian jadi 
keniscayaan.
    Mereka sebenarnya meminta bantuan, ingin dilindungi. Di ujung 
pertemuan kami, Novi berkata, "Besok-besok ajarin aku belajar, yah." 

Jalan Sunyi Sawung Jabo

bernostalgia dengan tulisan tiga tahun lalu, ketika saya masih ditandai dengan kode a11.

    Entah apa yang ditemui Sawung Jabo di lorong kesunyiannya. Entah 
badai apa yang membuatnya memilih singgah sejenak di kesenyapan. 
Dan, entah itu akhirnya terjawab, lewat "pengakuan dosanya" kemarin 
malam.
    Jangan berharap Sawung Jabo menyanyikan Bento dengan lantang, 
mengkritisi kebobrokan sistem semasa Orde Baru. Ia tidak sedang 
bersama Swami maupun Kantata Takwa. Ia seperti sedang menemui 
dirinya sendiri lewat pementasan "Memasuki Lorong Sunyi", Rabu 
(27/2).
    "Memasuki Lorong Sunyi sudah menjadi cita-cita lama saya. Saya 
seperti bertemu kekurangan dan kelemahan saya yang terus tumbuh di 
hati dan mati-matian saya jinakkan," ujarnya dalam sebuah konferensi 
pers.
    Apakah Jabo berhasil menjinakkan perasaan itu? Tidak. Ia memilih 
lemah itu ada, takut itu nyata, dan sunyi itu terbentang panjang 
yang dirangkainya lewat lirik Memasuki Lorong Sunyi.
    Saat kita sendiri memasuki lorong sunyi/tak ada yang menemani 
kesepian dalam sepi/bicara pada diri sendiri menghitung sisa hari. 
Lirik itu pun berpacu bersama dengan sayatan biola. "Kala itu saya 
membuat lirik-lirik yang memang lebih menukik ke dalam," ujar Jabo.
    Lirik-lirik itu hidup bukan hanya lewat suara Jabo, namun juga 
lewat sayatan biola, petikan dawai gitar, dan gesekan cello yang 
menjelma menjadi emosi. "Jabo mengajari kami bukan untuk bermain 
musik, tapi menghidupkan nada-nada," kata Ucok Hutabarat, pemain 
biola sekaligus pengaransemen musik.
    Jabo yang lahir di Surabaya, 5 Mei 1951, ini mengaku, ia pernah 
melawan lewat musik yang katanya "keras" dan lirik yang lugas. Ia 
pernah berteriak kencang-kencang dengan musik yang ingar-
bingar. "Ada masanya ketika saya  ingin teriak seperti itu. Kali ini 
saya sedang ingin sesuatu yang lebih intim. Ini seperti pengakuan 
dosa saya," ucapnya.
    Intimasi itu dibangunnya di Gedung Societeit Taman Budaya 
Yogyakarta yang terisi sekitar 200 penonton. Ia sengaja tidak 
memilih lapangan terbuka yang akan diisi banyak orang. "Di gedung 
ini saya ingin penonton dan saya saling bersenyawa. Biarkan lagu-
lagi ini menjadi jembatan dialog batin antara saya dengan mereka," 
tutur Jabo.

Konser pulang
    Setelah puluhan tahun berkarya dan malang melintang hingga 
Australia, negeri asal istrinya (Suzan Piper), ke mana ia pulang? 
    "Yogyakarta selalu jadi rumah saya. Tempat saya berkarya. 
Yogyakarta yang menyelamatkan saya dari keterpurukan," ucap ayah 
dari Johan Sanjaya dan Shanti Rosina ini. Jabo bilang, tanpa 
Yogyakarta ia terus-terusan menjadi balok yang mengapung di arus 
deras. 
    Jabo tidak berbohong. Konser kemarin ibarat reuni dengan kawan-
kawannya, semisal Nano Tirto maupun Tanto Mendut. Dua sosok tersebut 
ialah teman Jabo semasa kuliah di Akademi Musik Indonesia yang 
kemudian digabung dengan sekolah tinggi kesenian lainnya menjadi 
Institut Seni Indonesia. 
    Dua sosok itu pula yang kemarin malam berdiri di panggung, 
semacam memberi prolog sebelum pentas dibuka. "Jabo bukan 
manipulator kesenian," kata Nano dengan lantang. Di tengah industri 
musik yang mengedepankan kemasan, ujar Nano, Jabo tetap setia dengan 
ideologinya. Jabo tetap setia mengeksplorasi musik dalam balutan 
nada diatonis dan pentatonis etnik.
    Pencarian musik yang tiada henti. Itulah ruang yang tampaknya 
dipilih Jabo. Bahkan, Tanto Mendut sempat berseloroh, "Dia berjalan 
dengan kaki, bukan otak dan perasaannya." Yah, Jabo berani hanya 
bertumpu pada kaki bahkan untuk menyongsong kesunyian itu. Di 
kesunyian kemarin malam, sang troubadour itu mengaku sekali lagi... 
akulah dalang hidupku sendiri....