imajinasi

siapakah yang memintal langit dan menenun awan-awan? saya begitu terpana hingga bisa melamun lama berbaring di rerumputan hanya untuk terus memandangnya. bunga bougenville di kebun rumahpun tak menarik minat saya. hanya langit dan awan-awan itu yang membuat saya terdiam dan dengan liar meniti labirin imajinasi.
terkadang saya berpindah ke atap rumah. berkawan anjing peking saya yang sibuk menjilati jempol kaki kiri dan kanan bergantian. dan, saya akan terdiam lama sekali, bersandar pada genting magenta yang mulai retak, hingga gelap menggeser terang.
itu 14 tahun lalu, ketika saya masih duduk di kelas 6 SD. saya begitu suka diam dan melihat segala hal berlangsung cepat dan riuh di sekitar saya. saya hanya akan diam, melihat, membaui, mendengar, dan menyerapnya dengan semua indera. rasanya menyenangkan menjadi konstan dan diam di tengah semua yang bergerak.
saya bisa menghabiskan waktu berlama-lama dan memainkan pikiran saya sendiri. kadang saya tersesat di kota-kota asing dengan dinding kapur yang langitnya senantiasa biru lazuardi. saya yang tingginya 120 sentimeter akan begitu girang berlari lincah mencumbui sudut-sudut kota. itu kota yang asing, tapi saya merasa merdeka di dalamnya. lalu, imajinasi itu berganti dengan kisah lain. namun selalu ada langit di sana, yang setia menemani saya.
kini, saya di sini. sebuah kota yang asing, dengan langit yang selalu berganti tanpa permisi. tiada dinding kapur. tapi, imajinasi itu selalu ada di kepala saya, tersembunyi dan redam.
halo, imajinasi. apakah kamu masih di sana menanti saya lebih berani?
seorang kawan saya membuat catatan tentang penulis favoritnya. ada nama saya disebut. kata dia imajinasi saya terlalu liar hanya untuk ditampung oleh pekerjaan ini. saya termenung.
saya pun membuka tulisan-tulisan lama dan banyak yang saya sembunyikan dari orangorang. ahya, masih banyak imajinasi di sana. ada keliaran dan spontanitas yang saya lupa pernah saya punya.
rutinitas membunuh, kawan. kepatuhan mengurung imajinasi saya. saya tahu ini akan terjadi, tetapi saya menjalaninya. entah mengapa, imajinasi itu terus tumbuh dan tumbuh dan mendesak keluar. dan, tempat ini tidak mampu menampungnya.
imajinasi ini yang akhirnya saya salurkan dengan melangkah dan berlari ke mana saja, mengikuti kata hati. hanya ini yang saya mampu sekarang.
entah kapan, saya akan kembali menjemput gadis kecil yang menatapi langit dari genting magenta. saya akan merangkulnya dengan gembira. mungkin saya akan menemaninya menatapi langit yang setia atau mengajaknya mencuri mimpimimpi di sebuah kota berdinding kapur yang biru langitnya tiada luntur.

halo, imajinasi. bertahanlah di sana hingga saya lebih berani.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s