ingatan

hari yang panjang dalam ingatan yang pendek.
siang merenggang. kami memasuki lorong-lorong yang seakan memanggil kami tak sabar. rumah panggung kayu di kiri dan kanan dengan pakaian kering yang dijemur serampangan. tidak sampai seratus langkah dari jalan utama, kaki berhenti. kami tiba.
sandal jepit ditanggalkan, dan telapak yang telanjang sigap menapaki anak tangga. kami menunggu. empat menit berlalu dengan sunyi yang menganga.
“tabe,” salam itu terucap lamat dan pelan dari bibir. salam itu ditujukan untuk seseorang itu yang sehari sebelumnya masih duduk gagah di sebuah kota. yang dua hari sebelumnya bersimpuh dalam 2,5 jam pertunjukkan yang ternyata tak diinginkannya. yang tahunan lalu telah mampir di pikiran. yang entah mengapa wajahnya terekam terus di ingatan.
dan dia tengah terbaring lemah. tubuh kurus berkulit gelapnya dibalut singlet putih dan sarung. rambutnya kini terurai, panjang dan hitam, pun berkilau-kilau di dalam rumah panggung. dia bicara dalam bahasa yang tak saya mengerti. ibunya terus menemani sembari menempelkan daun yang katanya untuk menurunkan panas tubuh.
dia terbaring, di sebuah tikar. menggeliat tak tenang dan meracau seakan sakit menggerogoti tapi entah di bagian mana sakit itu berlabuh. dia, jejak terakhir sebuah kebudayaan kuno yang kini hanya dijual demi industri. namun nasibnya kini pun mirip serat kuno itu, ditinggalkan dalam sepi

setelah dipanggungkan dan dijual hingga ke tujuh negeri.
ini hari sebenar-benarnya bagi puang saidi. pentas baru selesai malam sebelumnya. tak sampai 24 jam, dia justru menempuh perjalanan seorang diri dengan mobil sewaan. dia dipulangkan, tanpa pelukan hangat dan terima kasih. semua hanya industri, dibayar lalu diminta pergi.
tak terkecuali bagi puang saidi yang di usia 9 tahun ingin menjadi bissu, mereka yang dipercaya sebagai perantara pencipta semesta. mereka yang menjadi citra dewata, tak lelaki pun perempuan.
dalam sakit, puang saidi memegang penuh janji. dia menerima kami dengan terbuka, membiarkan kami melihatnya yang terkulai tak berdaya pun memasuki kamar meditasinya. dia memegang janji.
ingin membawanya ke dokter agar dia tak lagi merintih, menahan sakit yang entah apa. dia menolak. dalam dunianya yang sakral itu, setiap bissu menyembuhkan diri mereka sendiri. bibir hanya kelu dan mata mulai berat menahan air mata melihatnya teguh memegang janji.
sunyi meruang. di pojok sepi, perempuan itu menangis di sisi puang saidi. perempuan yang bagi saya adalah guru dari sebuah pilihan yang ganjil. perempuan yang memilih jalan sunyi. perempuan itu memegang tangan puang saidi, menundukkan kepala, membiarkan air mata terjatuh tak pasti.
itu pemandangan paling indah yang terekam. dua manusia ini yang akan saya kenang ketika semua api seakan hendak padam. mereka menyalurkan energi yang entah apa, yang membuat hati bertalu tak tentu, pikiran beradu, dan jiwa seakan rindu untuk bertualang ke mana saja.
di menit entah ke berapa sunyi itu masih ada. namun, panas di tubuh puang saidi mulai lepas perlahan, mungkin menuju udara, atau muara entah yang mana. dia belum tersenyum, tetapi matanya sudah lebih berbinar dan suaranya mengayun.
kami pergi kendati hati kami terus tertinggal di sana. di kedalaman matanya ada rahasia, dalam kata-katanya air sungai mengalir terus tak bermuara, di gerak-geriknya selaksa sayap membawa kami ke dunia, yang hanya bisa kami rasa.
ada banyak yang terasa di hati. yang tak akan pernah terukur dan terlihat siapapun. yang terus mengembara tak henti, berdiam di semua relung jiwa, kadang kuat kadang samar. dalam hidup yang hanya sekali dan ingatan yang pendek, ini hari terpanjang yang ingin saya paku dalam memori.

Advertisements

parno porno

celaka dua belas! seluruh negeri kacung sudah terjangkit virus porno. semua mendadak porno dan mendadak parno.
tuan yang terhormat berporno ria pun hamba biasa yang sembunyi-sembunyi merayakan porno. hmm… apa sih porno?
kebingungan juga Gembil dengan yang porno ini. empat hari lalu Gembil yang asing membuang waktu di depan komputer stres bukan kepalang. ugh, internet kok seperti siput. lambat. apa perlu ditendang, dikilikitik, atau dibelai biar semangat. ajaib betul, jarangjarang komputer di kantor Gembil ngadat. di tengah kekesalan, sayupsayup terdengar suara bak orang ngeden. pelan cepat pelan cepat persis orang mengatur nafas sebelum mengeluarkan hal yang mahapenting. Gembil menajamkan indera pendengaran dan berjalan menyusuri ruangan. aha! ketemu juga sumber bunyi yang tak lain adalah komputer di pojok kantor yang sering dipakai si Gombel. hmm, kenapa sampai berbunyi? Gembil tengok sekilas, layar komputer gelap. setelah melihat ke kiri dan kanan, Gembil pun merengkuh mouse, ealah ternyata ada unduhan yang berjalan. satu detik. dua detik.tiga detik. alas! unduhan film porno. empat detik. lima detik. enam detik. satu layar dipenuhi arsip film porno. Gembil gelagapan sendiri dan menutup layar komputer persis ketika Gombel masuk ruangan.
porno oh porno. siapa sangka karena kasus porno itu, pekerjaan Gombel melayang. tiga hari lalu, Gembil menerima kabar, si Gombel sudah angkat kaki dari kantor. ternyata sudah dua kali si Gombel tertangkap tangan menyentuh komputer dan mengunduh film porno. sialnya, kali ini komputer yang ternyata adalah server utama, rusak, jebol, dimakani virus, karena ulah si Gombel. tiada kesempatan ketiga bagi Gombel. di bulan April yang panasnya menggila ini, si Gombel menghilang.
Gembil sedih juga. terlepas dari ulah si Gombel yang sibuk unduh film porno, dia orang paling rajin dan tahan lama yang bekerja di kantor ini. sedihnya lagi, istri Gombel tengah hamil anak kedua dan satu anaknya sebentar lagi masuk sekolah. porno oh porno mengapa dirimu membuat parno? sampai-sampai seorang tuan yang (katanya) terhormat harus memblokir semua situs di dunia maya yang mahabesar, sampai seorang wakil rakyat harus undur dari kursinya, sampai sebuah majalah harus dituntut karena namanya dianggap porno, sampai si Gombel yang gajinya pun masih di bawah UMR kini hanya bisa melongo.
porno oh porno.

imajinasi

siapakah yang memintal langit dan menenun awan-awan? saya begitu terpana hingga bisa melamun lama berbaring di rerumputan hanya untuk terus memandangnya. bunga bougenville di kebun rumahpun tak menarik minat saya. hanya langit dan awan-awan itu yang membuat saya terdiam dan dengan liar meniti labirin imajinasi.
terkadang saya berpindah ke atap rumah. berkawan anjing peking saya yang sibuk menjilati jempol kaki kiri dan kanan bergantian. dan, saya akan terdiam lama sekali, bersandar pada genting magenta yang mulai retak, hingga gelap menggeser terang.
itu 14 tahun lalu, ketika saya masih duduk di kelas 6 SD. saya begitu suka diam dan melihat segala hal berlangsung cepat dan riuh di sekitar saya. saya hanya akan diam, melihat, membaui, mendengar, dan menyerapnya dengan semua indera. rasanya menyenangkan menjadi konstan dan diam di tengah semua yang bergerak.
saya bisa menghabiskan waktu berlama-lama dan memainkan pikiran saya sendiri. kadang saya tersesat di kota-kota asing dengan dinding kapur yang langitnya senantiasa biru lazuardi. saya yang tingginya 120 sentimeter akan begitu girang berlari lincah mencumbui sudut-sudut kota. itu kota yang asing, tapi saya merasa merdeka di dalamnya. lalu, imajinasi itu berganti dengan kisah lain. namun selalu ada langit di sana, yang setia menemani saya.
kini, saya di sini. sebuah kota yang asing, dengan langit yang selalu berganti tanpa permisi. tiada dinding kapur. tapi, imajinasi itu selalu ada di kepala saya, tersembunyi dan redam.
halo, imajinasi. apakah kamu masih di sana menanti saya lebih berani?
seorang kawan saya membuat catatan tentang penulis favoritnya. ada nama saya disebut. kata dia imajinasi saya terlalu liar hanya untuk ditampung oleh pekerjaan ini. saya termenung.
saya pun membuka tulisan-tulisan lama dan banyak yang saya sembunyikan dari orangorang. ahya, masih banyak imajinasi di sana. ada keliaran dan spontanitas yang saya lupa pernah saya punya.
rutinitas membunuh, kawan. kepatuhan mengurung imajinasi saya. saya tahu ini akan terjadi, tetapi saya menjalaninya. entah mengapa, imajinasi itu terus tumbuh dan tumbuh dan mendesak keluar. dan, tempat ini tidak mampu menampungnya.
imajinasi ini yang akhirnya saya salurkan dengan melangkah dan berlari ke mana saja, mengikuti kata hati. hanya ini yang saya mampu sekarang.
entah kapan, saya akan kembali menjemput gadis kecil yang menatapi langit dari genting magenta. saya akan merangkulnya dengan gembira. mungkin saya akan menemaninya menatapi langit yang setia atau mengajaknya mencuri mimpimimpi di sebuah kota berdinding kapur yang biru langitnya tiada luntur.

halo, imajinasi. bertahanlah di sana hingga saya lebih berani.