sketsa

hujan jelang maret yang paripurna

si kecil berpayung merah bercanda di tepian. lelaki beruban mengolah dua jenis penganan. detik tertambat di pelabuhan. mudamudi terdiam bergenggaman.

splash. air kecoklatan digilas kendaraan. ingin rasanya meluapkan sumpahserapah tak berkesudahan. tapi apa guna mengumpat, kendaraan telah melaju dan hujan terus memburu.

kaki pun melangkah ke toko tua. memberi kepala ruang jeda. melayani tenggorokan yang dahaga.

ini kursi entah keberapa yang menampung sunyi. hujan kali ini kupilih menanti, berteman sepiring imaji dan segelas tekateki. sementara, kau terhampar samar di lautan, menarinari.

hujan

god is in the rain, kata V, yang diperankan Natalie Portman nan cantik di film V for Vendetta.

dan tuhan sedang turun dengan asiknya sepanjang hari di Makassar. dia merangsek ke celana jins, merembesi sepatu bot, membuat buram kacamata. begitu kosmopolit.

bulir hujan kadang begitu melankolis, saat menetes di kaca jendela, dan matamu nyalang menatap jalanan.

bulir hujan tampak begitu naif, menampung kaki telanjang bocah-bocah yang kegirangan.

bulir hujan menebar ketakutan bagi petani yang menunggu panen empat bulanan.

bagi saya hujan selalu memunculkan tanya : menunggu atau menembus?

menunggu bisa jadi menyenangkan. tidak basah kuyup sembari mengamati serpih-serpih tuhan menghujami bumi.

menembus hujan jelas baju akan basah, walaupun sudah pakai jas hujan yang menjuntai hingga ke tanah. hujan  selalu mampu melihat celah-celah yang merekah.

saya adalah orang yang menembus hujan. pun di siang yang sial ini, hujan datang tanpa kompromi.  sedari pagi hingga senja, tak putus-putus dia menggoda.

dengan gembira saya menembusnya, mencumbu bulir-bulirnya, berdansa di dalamnya. ada ekstase antara kesedihan dan kelegaan di dalamnya, seperti berhasil mengumpulkan semua bagian diri menjadi satu.

seperti mengetahui bahwa hujan akan membasahi, mengundang flu, membuat licin jalan, membuat got mampat dan cucian tak kering, tetapi semua tak mengapa. semua yang akan tiba tidaklah mengapa. dia tidak menyakiti.

ah ya, tuhan mungkin ada di dalam hujan.

 

awanama

kamus besar bahasa indonesia punya diksi lain untuk menyebut anonim : awanama

siapa dia?

mungkin dia saya, saat melaju bersama supir pendiam, menuju kabupaten entah 125 kilometer ke  arah Tenggara.

mata saya tertumbuk ke retakan tanah merekah, dangau beratap rumbia, dan pucuk padi yang masih basah

“hmm, di manakah arah,” batin saya seakan ada tanda tanya besar menganga di kepala.

ini pertanyaan rutin, sekerap sarapan kopi, dan malasnya bangun pagi

hey, mengapa perantau selalu gelisah dalam pengembaraannya?

seakan-akan semua jalan ini hanya lorong gelap dan cahaya lilin di ujung menyala samar

ah, resah itu pun kadang terbenam di ladang kerja

untuk kembali muncul di hari yang paripurna

timbul lalu tenggelam, seperti ombak yang mengguncang kapalmu

biru dan lebam, bak hati dicambuk ragu

ribuan samsu telah berlalu dan kau pun menyadari, jalan panjang ini mengantarkanmu

pulang, ke padamu

yang tanpa nama, awanama