suaka

mendung memeluk kota dan Karma menyadari mendung itu juga memeluk sukmanya. Ini mendung yang telah diakrabinya sejak kecil, yang konstan datang tanpa permisi. Ini mendung yang membentuknya menjadi seperti saat ini : ceria dengan penuh rahasia.
Mendung kali ini datang lagi melalui sebuah suara dari jauh. Sebuah telepon dari kota penuh peluh. Ah, Karma tadinya berharap ada kabar bahagia dari ujung sana, tentang entah apa saja.
Ah, ya suara bocah memecah keheningan. Suara itu yang Karma rindu rindu rindu. Suara yang akan memeluk siapapun apa adanya.
Pun suara itu menghilang, menyisakan lagi mendung yang lama. Karma terdampar lagi pada situasi di sebuah Januari yang bising. Sebuah hari ketika Karma memulai pemberontakannya. Sebuah hari ketika Karma sadar dia akan selalu menjadi pihak yang selalu salah. Sebuah hari ketika Karma paham semua perlawanan akan sia-sia.
Karma lelah dan memutus suara dari jauh itu. Karma tahu dia akan selalu sendirian. Bagi siapapun, dia akan selalu salah, karena memilih pengembaraan tanpa ujung.
Karma memilih tidak menoleh ke belakang.
Pengembaraan ini adalah suaka.