menanti nyali si ‘anak nakal’

Ketegangan merambati ruang rapat KONI Jawa Timur, Selasa (2/11) malam. La Nyalla Mattalitti selaku wakil ketua I mengedarkan pandangan dingin sebelum meluncurkan kalimat pamungkas : “Saya akan melaporkan Haruna Soemitro atas dasar penyelewengan APBD.”

Kalimat itu menjadi senjata terakhir yang dipakai untuk menyelesaikan konflik PSSI Surabaya yang sudah menapaki bulan kedelapan. Upaya mediasi berkali-kali mandul. Campur tangan pihak ketiga mentah. Apa yang tersisa?

Selasa malam seharusnya menelurkan solusi final, mau di bawa ke mana biduk PSSI Surabaya. Sebanyak 18 klub datang dengan harapan bahwa jalan damai akhirnya diretas. Muscablub pun bukan pilihan absolut jika semua pihak bersedia melepaskan ego. Tapi apa daya, konflik antarpemimpin ini ibarat pertikaian ego dua dewa. Tak ada yang mau terluka.

Yang menyakitkan, hingga saat ini Haruna pun enggan turun gelanggang, seakan cuci tangan dari semua kejadian yang juga terjadi berkat ‘bantuan tangannya’. Dia yang membekukan PSSI versi Saleh Ismail Mukadar. Dia yang menghukum Saleh selama dua tahun. Dia juga yang mengesahkan PSSI Surabaya versi Wisnu Wardhana yang hanya dihadiri 13 klub anggota.

Jejak tangan Haruna tercetak di mana-mana selaku pengambil kebijakan. Atas nama aturan, PSSI Jatim mengakui Muscab di Hotel Utami yang memilih Wisnu Wardhana kendati hanya 13 klub yang hadir. PSSI berdalih bahwa forum sah dan bisa dilanjutkan jika dalam waktu yang ditentukan klub yang diundang tidak datang.

Dalih ini begitu dicari-cari. Pada muscab di Taman Sari 26 April malam pun 16 klub yang tersisa setelah 11 klub walk out sudah memberi tenggang waktu kepada klub yang meninggalkan rapat. Karena sebelas klub bersikukuh pergi, forum dilanjutkan tetapi justru dinilai tidak sah oleh PSSI Jatim. Jadi, aturan manakah yang diacu PSSI Jatim?

Sembunyi

Konflik terus-menerus ini akhirnya membuat gerah juga. Ketua Harian KONI Jatim Dhimam Abror berinisiatif memfasilitasi pertemuan klub dengan PSSI Jatim dengan syarat: Selasa malam itu adalah pertemuan final, yang ternyata gagal.

Kini, senjata pamungkas sudah dikeluarkan La Nyalla. “Semua berkas dan bukti kejahatan Haruna sudah di Kejati, kami tinggal buat surat pengaduan agar diproses,” ujar La Nyalla sembari meregangkan jempol dan telunjuknya untuk menunjukkan betapa tebal berkas yang dia serahkan.

Toh, dengan semua ancaman dan tudingan, Haruna bergeming. Sudah hampir sebulan dia menunjuk Ahmad Riyadh selaku wakilnya untuk membereskan masalah ini. “Saya diberi mandat,” ujar Riyadh.

Menyerahkan masalah PSSI Surabaya kepada perwakilan bukan tindakan seorang pemimpin yang sportif. Riyadh bisa jadi cakap di bidang hukum dan organisasi, tapi bukan dia yang berada di tampuk pimpinan PSSI Jatim dan punya kekuatan mengambil kebijakan untuk membekukan, menghancurkan, pun membangkitkan pemimpin ambisius.

Saya pun teringat pertemuan saya dengan Wastomi Suhari, Penanggungjawab Yayasan Suporter Surabaya, 16 Januari 2010. Kala itu semua orang meremehkan pernyataannya tentang 21 klub yang siap menentang Saleh Ismail Mukadar.

Dalam pertemuan kami di kantornya, Wastomi menunjukkan nama-nama klub yang sudah bergabung dengan kubunya. Nama seorang pemimpin baru pun sudah disiapkan. Pembicaraan kami sempat putus saat telepon genggam Wastomi berbunyi. Wastomi bicara lamat-lamat dengan rasa hormat kepada suara di ujung telepon. Saya bertanya siapa sang penelepon. Wastomi menjawab mantap, “Pak Haruna.”

Sepenggal kenangan itu seperti menyusun puzzle yang berserakan tentang konflik PSSI yang mengapa seakan terus menajam. Tapi saya percaya benih-benih itu sudah ditanam sejak lama dan Ketua Umum PSSI Jatim yang terhormat ikut andil di dalamnya.

Haruna yang sempat saya wawancarai secara pribadi setelah terpilih sebagai Ketua Umum PSSI Jatim itu pernah berkata bahwa dia adalah si ‘anak nakal’ Nurdin Halid. “Saya bukan brutus dan saya tidak akan mengkhianati pimpinan saya, “ucapnya kala itu.

Ah, akhirnya saya tahu ke mana si anak nakal itu sekarang : berlindung di bawah ketiak Nurdin.

*tulisan ini dibuat seminggu sebelum Haruna akhirnya mundur dari tampuknya. Dimuat di tempat saya bekerja dengan beberapa perubahan.

Advertisements