karena kamu bukan sekadar angka

konvergensi media, kolaborasi konten, komersialisasi konten.

siang ini otak kecil saya dijejali istilah dahsyat itu. dan pikiran saya melayang pada kehidupan kuliah hampir delapan tahun lalu.

kawan-kawan saya di jurusan komunikasi 2002 mungkin akan lebih ingat waktu-waktu yang kami habiskan di bawah pohon kepel ketimbang isi mata kuliah manajemen media massa, penulisan berita (yang hanya diikuti kurang dari sepuluh orang), juga etika komunikasi .

saya bertaruh lebih banyak yang ngantuk.

saya hanya semangat mengikuti psikologi komunikasi, sosiologi jender, jurnalisme televisi, sinematografi, komunikasi sosial, pokoknya mata kuliah yang saya bisa bebas menulis sembarangkalir.

secara akademik, tidak ada mata kuliah yang spesifik mengajari bagaimana harus bertahan di era konvergensi media, apalagi bagaimana tetap membuat sebuah karya jurnalistik yang bukan semata sebuah produk.

dan di sinilah saya. di era ketika informasi adalah uang. bahkan ucapan busuk politisi pun bisa dibingkai jadi informasi senilai uang.

media massa saat ini adalah news corporation, dan saya adalah tukang buat berita.

saya harus bisa menulis, memotret, merekam gambar, sampai mengedit.

informasi yang saya dapat harus bisa berguna untuk media cetak, elektronik, hingga online.

bahasa kerennya saya jurnalis serbabisa.

satu kawan saya bilang, ini tantangan.

satu kawan lagi bilang, ini working abuse.

sedangkan saya, kehilangan pegangan.

anggap saya naif. tapi buat saya tulisan adalah sebuah karya, bukan sekadar produk yang bisa muncul di berbagai media yang membuat nama saya melambung, menjadi deret-deret angka yang menunjukkan saya jurnalis produktif.

tidak ada uang yang bisa menggantikan kepuasan menemukan orangorang biasa dengan cerita luar biasa, sama halnya tidak ada uang yang cukup untuk menggantikan -meminjam istilah kawan saya- akarakar sosial yang tercerabut selama dalam tugas.

tapi era baru ini tidak bisa dilawan. semua media menuju ke sana, menjadi yang paling cepat dan inovatif, muaranya tentu saja branding dan keuntungan.

saya tidak tahu akan berada di mana saat semua benar-benar nyata.

tapi, saya berharap siapapun yang masih bertahan di dalamnya masih tetap menulis dengan ‘bernyawa’.

saya jadi teringat Isabel Allende, jurnalis berkebangsaan Chile yang akhirnya menjadi novelis.

dalam tugas jurnalistiknya, Allende berkesempatan mewawancarai Pablo Neruda, penyair mashyur Chile.

apa yang dikatakan Neruda? “imajinasimu terlalu liar untuk seorang jurnalis, kau seharusnya menjadi novelis”

itulah yang akhirnya dilakukan Allende dengan menulis buku pertamanya, House of Spirits, buku yang menemani saya juga berkhayal setiap malam.

saya teringat diri saya dan beberapa kawan lain yang saya percaya memiliki imajinasi tanpa batas.

akankah kami di sana, membebaskan imajinasi itu di lembar-lembar penuh cerita, atau tetap menyusun informasi digital yang bagi mereka hanyalah angka-angka?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s