iklan lowongan, tiga tahun berselang

Iklan lowongan pekerjaan yang berjejalan di koran Sabtu seperti sebuah pengingat, akan sebuah pilihan, harapan, atau juga kegalauan. Bagi saya? Dia seperti sebuah keragu-raguan.

20 Maret 2010, koran edisi Sabtu menampilkan iklan lowongan pekerjaan sebagai reporter mula di sebuah media cetak. Kualifikasinya: mandiri, tangguh, menyukai tantangan, antusias, sanggup bekerja cepat dan akurat di bawah tekanan. Tentu ada juga kualifikasi IPK, tingkat kemampuan berbahasa Inggris, dan blablabla.

Saya tercenung. Tiga tahun lalu,  medio Maret, iklan itu juga tertangkap mata saya. Mata seorang lulusan perguruan tinggi negeri yang sedang rakus melahap semua kesempatan. Tapi, hanya lowongan menjadi reporter itu yang menggedor hati saya. Sejak kecil saya ingin jadi wartawan, ini pekerjaan yang saya mau. Begitu batin saya.

Maka terjadilah. Proses rekrutmen yang panjang dan melelahkan dan penantian yang mendebarkan. Akhirnya sampai juga saya di sana, di gedung legendaris kawasan Palmerah, Jakarta. Masih banyak api yang membakar saya untuk melaju ke manapun. Saya menelusuri nadi-nadi Jakarta dan menikmati ketersesatan di jalan-jalannya.

Jakarta adalah pengalaman enam bulan yang menghajar nyali. Dari sana, saya dilempar ke DI Yogyakarta yang tetap lambat dan terlalu melenakan. Yah, enam bulan yang cukup menyenangkan. Siapa sangka dua tahun terakhir saya harus berkubang di Surabaya.

Saya teringat iklan lowongan itu lagi. Mandirikah saya? Tangguhkan? Antusiaskah? Tiga tahun bergerilya di lapangan tidak serta merta meneguhkan hati saya untuk memilih jalan ini seumur hidup.

Saya selalu ragu, saya tidak percaya panggilan (vocatio) untuk menjadi wartawan adalah sebuah takdir. Panggilan ini seperti medan perang yang harus dilalui setiap hari, setiap detik.

Tahun-tahun yang berlalu menunjukkan bahwa profesi ini kadang begitu menjijikan. Begitu banyak borok yang kami tahu tanpa punya kuasa untuk mengabarkannya. Betapa tangan-tangan kami jugalah yang membuat sebuah isu bisa dilupakan atau digembar-gemborkan. Betapa saya hanyalah pion yang digerakkan tangan-tangan ajaib.

Satu demi satu kawan saya meninggalkan pekerjaan ini, sementara yang lain bertahan. Siapa yang lebih berani, yang bertahan atau menyerah? Siapa yang pengecut, yang tinggal atau keluar? Saya ikut senang bagi mereka yang memilih keluar dan menemukan dunia lain yang dia cari. Saya juga ikut senang bagi yang bertahan di dalam dengan semua kegilaan dan ketidakpastian.

Sedangkan saya? Kadang saya melihat saya pengecut, kadang saya menganggap saya seorang penyintas (survivor). Kadang saya mandiri, kadang saya antusias, kadang saya tangguh. Setiap hari seperti kadang-kadang, seperti keragu-raguan yang terus mengintai.

Tiga tahun seperti sebuah pertempuran ego dan harapan. Antara terus menjadi pion atau menjadi tuan bagi diri saya sendiri. Bisakah saya menjadi pion yang berhak menentukan langkahnya sendiri?

Saya teringat lowongan kerja itu lagi. Kita semua bisa berubah menjadi apapun yang diharapkan sebuah iklan lowongan kerja. Kita semua bisa memanipulasi tes psikologi seperti diajarkan di buku-buku. Tapi kita tahu, keragu-raguan tidak bisa diganti dengan gaji sebesar apapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s