declaration of (in)dependence

Manusia dikutuk untuk merasa merdeka, meskipun seumur hidupnya terbelenggu.

Saya semakin membenci jargon ‘independent woman’. Apalagi jika harus mengingat bagaimana jaman dulu Destiny’s Child menyanyikannya dengan lantang sambil bergerak aduhai. Saya semakin menjauh dari teori-teori feminisme yang dulu saya lahap mulai dari feminisme gelombang pertama, hingga posfeminisme. Saya jadi merasa dungu karena mengutipnya untuk skripsi saya.

Mimpi untuk hidup bebas tanpa tergantung adalah omong kosong. Selepas lulus kuliah, saya pikir saya sudah sah jadi manusia mandiri. Saya menghasilkan uang sendiri untuk menyumpal perut saya, menghiasi diri, memermak otak.

Saya tidak perlu berpikir dua kali untuk menggesek kartu kredit, terbang ke negara manapun. Batasnya hanya satu : limit kartu kredit.

Saya sudah menyandang status sebagai karyawan tetap. Saya bebas pakai celana denim belel dan sepatu kets. Saya bebas bangun dan tidur jam berapa. Saya bebas mau mabuk di mana.

Hampir tiga tahun saya dilenakan dengan mimpi bahwa ini dunia kebebasan seorang perempuan muda. Dunia saya akan melaju ke mana telunjuk saya memilih satu titik. Semudah itu? Nyatanya tidak.

Kenyataannya dunia baru ini begitu pandai memanipulasi dirinya seakan-akan dia adalah dunia ideal. Nyatanya dia membuat ikatan-ikatan baru yang membuat kita terus berlindung di ketiaknya.

Dan kalau mau jujur, memang tidak banyak orang yang mengakui bahwa kita sudah teralienasi dari diri kita sendiri. Ada yang begitu pragmatis untuk terus bertahan, ada yang tetap idealis untuk mengubah keadaan, ada yang pasrah menerima semuanya dengan lapang dada.

Tapi saya percaya, tidak ada kepasrahan di tengah alienasi. Yang ada kepengecutan untuk melepaskan belenggu dan membebaskan diri. Dan, selalu lebih banyak pengecut-pengecut yang berusaha menampilkan diri sebagai pejuang.

Saya bisa jadi salah satunya. Tapi saya sadar, berlari ke manapun tidak ada gunanya. Semua tempat bisa menjadi penjara baru.

Kadang saya berpikir bahwa selalu ada ternak yang keras kepala di tengah kawanannya. Selalu ada orang yang mampu keluar dari belenggu whatsoever ini. Betulkah?

Entahlah. Kadang saya berpikir untuk memberontak, kadang hanya diam menikmati pertunjukkan. Siapa bisa menjamin sebuah akhir? Bahkan kita tidak pernah yakin mana yang lebih dulu dibikin, ayam atau telurnya!

Jadi, daripada terus merutuk tidak jelas, lebih sering saya menyimpan apatisme luar biasa sambil berkata, “well, it was just a fucking joke.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s