oriann

the oriann

oshy sudah jadi model toko baju umur 1,5 tahun..

Saya membayangkan matanya berbinar jenakanya saat meniup lilin ulang tahun 20 Oktober lalu. Dua gigi kelincinya bakal nongol waktu dia tertawa dan rambut ikalnya bergoyang-goyang sembari dia berlari. Oriann Shilo Yonina Esther Olivia, maaf ya aku gagal datang lagi….

Orian, anak kakak saya. Karena namanya yang terlalu panjang dan rumit akhirnya dia dipanggil  Oshy, singkatan dari tiga nama terdepannya. Abang ipar saya kayaknya tergila-gila dengan nama Ibrani sampai akhirnya dia kasih nama anaknya Oriann Shilo Yonina. Kata kakak saya sih kurang lebih artinya, matahari yang ceria, atau apalah.  Saya lupa.hihi.

Sebelum Oshy lahir saya sudah mengikuti drama percintaaan kakak saya dan si abang *haiah*.  Tapi beneran, saya jadi tong sampah sekaligus obat nyamuk kalau mereka pacaran. Jadi betapa senangnyah saya waktu tahu mereka mau menikah. Gimana gak? Kakak saya ini tipe-tipe melankolis yang percaya harapan yang disampaikan waktu bintang jatuh bisa terkabul. Saya inget dia cinta mati sama novel berjudul ‘Beraja’, yang artinya bintang jatuh. Beda pisan lah sama saya yang ‘gotohellwiththecliche’.

Saya dukung seribu persen deh mereka menikah. Akhirnya ada abang ipar yang kalau berangkat kerja dengan celana jins dan kaos dan nenteng kamera. Buat saya itu keren banget. hihi. Sedihnya, waktu mereka nikah saya udah jadi babu di ibu kota dengan jam kerja tidak tetap dan tiada libur setahun penuh.

Tapi karena dari dulu saya sudah punya bakat menghilang, kaburlah saya dari jakarta ke bandung naik travel jam 04.00. Nyampe rumah, edan, gak pake mandi langsung disuruh pake kebaya sama didandani. Persis lenong. Jadilah saya datang ke acara nikahan mereka dan saya baru benar-benar ngalamin pesta nikahan adat Batak teh riweuh alias hectic pisan. Itu sodara yang datang pada bawa tempat makan terus ngambilin makanan dan buang sampah sembarangan. Kacau.

Rasanya senang sekali gitu ngeliat proses kakak pertama saya itu sejak kuliah sampe sekarang nunggu kelahiran anak kedua. Di mata saya dia keren banget lah. Dia udah ikut homestay di Amerika Serikat waktu dollar masih 2.500 (ihik) terus jadi duta kebudayaan waktu kuliah di Unpad dan keliling Eropa (ihik). Dia perempuan yang berani nyatain perasaannya ke cowok. Dia pintar menyimpan rahasia-rahasia kecilnya.

Saya tambah senang waktu dengar kabar Oshy lahir. Bodohnya, saya udah di kota terkutuk Surabaya (hihi) yang mau nekat ngabur pun harus naik pesawat yang mahal pisan. Intinya, saya gagal lihat cucu pertama keluarga Sinurat lahir. Dan tau gak? Saya baru sempat liat Oshy Natal 2009, waktu Oshy udah setahun lebih.

Begitulah. Saya banyak kehilangan momentum-momentum sederhana setelah saya bekerja. Dan, waktu Oshy ulang tahun ke-2 saya kehilangan momentum itu lagi. Saya sih tahu ini yang namanya risiko pekerjaan. Babe saya juga gak pernah protes paling cuma nyindir “pekerjaan itu kan pilihan kamu”. Dan saya biasanya cuma bisa nyengir.

Saya bukan tipe pecinta keluarga. Jujur, saya jarang kangen sama rumah. Saya jarang kangen siapa-siapa. hihi. Serius. Tapi sejak ada Oshy saya jadi sering kangen rumah. Saya kangen becanda bodoh dengan Oshy walaupun mungkin saya gak ngerti dia ngomong apa. hihi.

Ngelihat Oshy rasanya tenang sekali. Mungkin karena akhir-akhir ini saya ngerasa saya banyak harus ngelihat kepalsuan yah di pekerjaan ini. Jenuh setengah mampus menampung ludah-ludah narasumber, membingkainya dalam bentuk berita yang mungkin gak dibaca siapapun.

Saya kadang berpikir, nyata gak sih yang kami, para jurnalis, bikin di media.  Bener gak sih ada imbasnya? Bahkan berkali-kali media kasih solusi dan kritik juga dianggap sambil lalu. Jadi ingat kata Chuck Palahniuk di novelnya, Choke. Mereka yang bekerja di media adalah yang bergelut dengan kesia-siaan karena apa yang dibuat hari ini dilupakan keesokan harinya.

Tapi Oshy, dia nyata. Lebih nyata ketimbang demonstrasi dan rapat kabinet. Dia nyata dan apa-adanya. Ngelihat Oshy serasa ngelihat saya tahunan lalu, when I was happier.

declaration of (in)dependence

Manusia dikutuk untuk merasa merdeka, meskipun seumur hidupnya terbelenggu.

Saya semakin membenci jargon ‘independent woman’. Apalagi jika harus mengingat bagaimana jaman dulu Destiny’s Child menyanyikannya dengan lantang sambil bergerak aduhai. Saya semakin menjauh dari teori-teori feminisme yang dulu saya lahap mulai dari feminisme gelombang pertama, hingga posfeminisme. Saya jadi merasa dungu karena mengutipnya untuk skripsi saya.

Mimpi untuk hidup bebas tanpa tergantung adalah omong kosong. Selepas lulus kuliah, saya pikir saya sudah sah jadi manusia mandiri. Saya menghasilkan uang sendiri untuk menyumpal perut saya, menghiasi diri, memermak otak.

Saya tidak perlu berpikir dua kali untuk menggesek kartu kredit, terbang ke negara manapun. Batasnya hanya satu : limit kartu kredit.

Saya sudah menyandang status sebagai karyawan tetap. Saya bebas pakai celana denim belel dan sepatu kets. Saya bebas bangun dan tidur jam berapa. Saya bebas mau mabuk di mana.

Hampir tiga tahun saya dilenakan dengan mimpi bahwa ini dunia kebebasan seorang perempuan muda. Dunia saya akan melaju ke mana telunjuk saya memilih satu titik. Semudah itu? Nyatanya tidak.

Kenyataannya dunia baru ini begitu pandai memanipulasi dirinya seakan-akan dia adalah dunia ideal. Nyatanya dia membuat ikatan-ikatan baru yang membuat kita terus berlindung di ketiaknya.

Dan kalau mau jujur, memang tidak banyak orang yang mengakui bahwa kita sudah teralienasi dari diri kita sendiri. Ada yang begitu pragmatis untuk terus bertahan, ada yang tetap idealis untuk mengubah keadaan, ada yang pasrah menerima semuanya dengan lapang dada.

Tapi saya percaya, tidak ada kepasrahan di tengah alienasi. Yang ada kepengecutan untuk melepaskan belenggu dan membebaskan diri. Dan, selalu lebih banyak pengecut-pengecut yang berusaha menampilkan diri sebagai pejuang.

Saya bisa jadi salah satunya. Tapi saya sadar, berlari ke manapun tidak ada gunanya. Semua tempat bisa menjadi penjara baru.

Kadang saya berpikir bahwa selalu ada ternak yang keras kepala di tengah kawanannya. Selalu ada orang yang mampu keluar dari belenggu whatsoever ini. Betulkah?

Entahlah. Kadang saya berpikir untuk memberontak, kadang hanya diam menikmati pertunjukkan. Siapa bisa menjamin sebuah akhir? Bahkan kita tidak pernah yakin mana yang lebih dulu dibikin, ayam atau telurnya!

Jadi, daripada terus merutuk tidak jelas, lebih sering saya menyimpan apatisme luar biasa sambil berkata, “well, it was just a fucking joke.”

dunia saya, panggung Sherly Arsita

Sesaat saya serasa ada di konser ala Megadeth ketika seorang biduanita di panggung Taman Ria Surabaya (TRS), 21 September malam, asyik ber-head bang-ria, memutar lehernya 360 derajat, lompat kiri dan kanan tanpa terganggu celana kulit pendek superketatnya. Saya pikir ini bakal jadi malam metal pertama saya hanya dengan Rp 10.000 di Surabaya. Tapi Sherly Arsita, biduanita itu, langsung mematahkan hati saya ketika dari mulutnya meluncur lagu “Cinta Terlarang” dari The Virgin. Oalah…

Saya memang tidak suka The Virgin sama tidak sukanya pada Ahmad Dani. Tapi saya terhibur sekali dengan penampilan Sherly malam itu. Biduanita cum penari itu tahu betul menyenangkan mayoritas penonton lelaki yang berada di garda paling depan. Ratusan penonton malam itu memuja satu dewi: Sherly. Mereka mengimani satu agama: dangdut. Yah, walau kadang berselingkuh dengan pop dan melayu.

Panggung hiburan sedianya punya misi untuk menghibur, dan yah saya pun tertawa kala itu. Tapi ada pertanyaan lebih besar di kepala saya, siapakah Sherly? Siapakah ratusan orang-orang ini? Apa yang membuat di malam Idul Fitri mereka lebih tersedot menuju tempat hiburan ketimbang selonjoran di rumah?

Yang lebih dahsyat, manajer taman ria ini mengaku dia dan sekitar 150 pegawainya justru berlebaran di TRS ini. Setelah shalat ied, semuanya kembali bekerja, mesin-mesin bergerak, tiket-tiket dirobek, dan uang-uang berpindah tangan. Demi melayani warga yang selalu haus hiburan, mereka menggadaikan sedikit waktu senggang. Demi sebuah Lebaran yang sudah kadung lekat dengan ‘Liburan’.

Lebaran = Liburan? Ini konsekuensi sebuah kota mungkin. Surabaya, yang katanya kota terbesar kedua di Indonesia, menjadi salah satu destinasi mudik terbesar. Hari kedua Lebaran, mal-mal dan tempat hiburan sudah dijejali oleh pemudik. Padahal apa juga gunanya menjejali mal di Surabaya, batin saya. Semua kota sekarang punya mal, mereka punya tempat hiburan, mereka punya apapun yang bisa dibeli oleh uang. Apa yang tertinggal dari sebuah kota?

Yang bisa saya ingat dari sebuah kota bukan hanya sebuah nama. Kita bukan berada di dunia Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) yang menandai setiap kota dan negara hanya dengan ibu kota dan monumen pentingnya. Kota adalah sebuah pengalaman. Liburan tiga hari saja tidak akan pernah cukup menangkap nyawa sebuah kota, hanya ibarat menonton panggung hiburan dua jam yang menyisakan senang sesaat.

 

Dunia panggung

Setahun di Surabaya bagi saya memang masih seperti melihat panggung hiburan. Saya memaki budaya mal di sini tapi menyempatkan waktu untuk kadang nongkrong di dalamnya. Saya menontoni mereka yang datang ke mal dengan gaun dan rambut tertata rapi hanya untuk sepiring nasi goreng di sebuah kafe. Parfum-parfum berbaur dengan kretek terbakar, gincu disapu aroma kafein.

Kota ini akan homogen dengan kota-kota lainnya yang berayah pembangunan dan beribu kandung industri. Anak-anaknya ialah gedung bertingkat, kawasan industri, infrastruktur setengah jadi, pelayanan publik setengah hati, dan mal-mal pongah percaya diri. Anak tirinya ialah kali-kali bau, sampah-sampah tak terangkut, lapak-lapak liar, dan mungkin saya, perantau kehilangan jati diri.

Saya tidak suka kota ini, tapi ini panggung saya. Ini tempat saya harus menjadi penampil yang baik, setidaknya bagi orang-orang dengan siapa saya bekerja. Tapi saya bukan Sherly Arsita yang begitu menjiwai perannya di panggung. Apakah semua perantau selalu gelisah dengan kota perantauannya?

Pukul 22.30 taman hiburan ini tutup, terlambat setengah jam dari biasanya. Sherly pun turun panggung dengan senyuman terakhir di wajah berbedak tebalnya. Tapi saya masih di sini, di panggung saya menunggu pertunjukkan berikutnya.

Sejenak saya iri pada Sherly yang panggungnya lebih nyata dari panggung saya. Panggung saya terlalu asing dan abstrak. Atau mungkin semua orang sebetulnya berada di panggung imajiner mereka, merasa terasing di tengah kota yang tak lagi sama dengan ingatan mereka.

Yah, suatu saat ketika kembali bertemu Sherly, akan saya tanyakan nama aslinya. Saya tanyakan ke mana dia ingin pulang. Mungkin saja kami sama-sama terasing, di Surabaya.

 

 

iklan lowongan, tiga tahun berselang

Iklan lowongan pekerjaan yang berjejalan di koran Sabtu seperti sebuah pengingat, akan sebuah pilihan, harapan, atau juga kegalauan. Bagi saya? Dia seperti sebuah keragu-raguan.

20 Maret 2010, koran edisi Sabtu menampilkan iklan lowongan pekerjaan sebagai reporter mula di sebuah media cetak. Kualifikasinya: mandiri, tangguh, menyukai tantangan, antusias, sanggup bekerja cepat dan akurat di bawah tekanan. Tentu ada juga kualifikasi IPK, tingkat kemampuan berbahasa Inggris, dan blablabla.

Saya tercenung. Tiga tahun lalu,  medio Maret, iklan itu juga tertangkap mata saya. Mata seorang lulusan perguruan tinggi negeri yang sedang rakus melahap semua kesempatan. Tapi, hanya lowongan menjadi reporter itu yang menggedor hati saya. Sejak kecil saya ingin jadi wartawan, ini pekerjaan yang saya mau. Begitu batin saya.

Maka terjadilah. Proses rekrutmen yang panjang dan melelahkan dan penantian yang mendebarkan. Akhirnya sampai juga saya di sana, di gedung legendaris kawasan Palmerah, Jakarta. Masih banyak api yang membakar saya untuk melaju ke manapun. Saya menelusuri nadi-nadi Jakarta dan menikmati ketersesatan di jalan-jalannya.

Jakarta adalah pengalaman enam bulan yang menghajar nyali. Dari sana, saya dilempar ke DI Yogyakarta yang tetap lambat dan terlalu melenakan. Yah, enam bulan yang cukup menyenangkan. Siapa sangka dua tahun terakhir saya harus berkubang di Surabaya.

Saya teringat iklan lowongan itu lagi. Mandirikah saya? Tangguhkan? Antusiaskah? Tiga tahun bergerilya di lapangan tidak serta merta meneguhkan hati saya untuk memilih jalan ini seumur hidup.

Saya selalu ragu, saya tidak percaya panggilan (vocatio) untuk menjadi wartawan adalah sebuah takdir. Panggilan ini seperti medan perang yang harus dilalui setiap hari, setiap detik.

Tahun-tahun yang berlalu menunjukkan bahwa profesi ini kadang begitu menjijikan. Begitu banyak borok yang kami tahu tanpa punya kuasa untuk mengabarkannya. Betapa tangan-tangan kami jugalah yang membuat sebuah isu bisa dilupakan atau digembar-gemborkan. Betapa saya hanyalah pion yang digerakkan tangan-tangan ajaib.

Satu demi satu kawan saya meninggalkan pekerjaan ini, sementara yang lain bertahan. Siapa yang lebih berani, yang bertahan atau menyerah? Siapa yang pengecut, yang tinggal atau keluar? Saya ikut senang bagi mereka yang memilih keluar dan menemukan dunia lain yang dia cari. Saya juga ikut senang bagi yang bertahan di dalam dengan semua kegilaan dan ketidakpastian.

Sedangkan saya? Kadang saya melihat saya pengecut, kadang saya menganggap saya seorang penyintas (survivor). Kadang saya mandiri, kadang saya antusias, kadang saya tangguh. Setiap hari seperti kadang-kadang, seperti keragu-raguan yang terus mengintai.

Tiga tahun seperti sebuah pertempuran ego dan harapan. Antara terus menjadi pion atau menjadi tuan bagi diri saya sendiri. Bisakah saya menjadi pion yang berhak menentukan langkahnya sendiri?

Saya teringat lowongan kerja itu lagi. Kita semua bisa berubah menjadi apapun yang diharapkan sebuah iklan lowongan kerja. Kita semua bisa memanipulasi tes psikologi seperti diajarkan di buku-buku. Tapi kita tahu, keragu-raguan tidak bisa diganti dengan gaji sebesar apapun.

karena kamu bukan sekadar angka

konvergensi media, kolaborasi konten, komersialisasi konten.

siang ini otak kecil saya dijejali istilah dahsyat itu. dan pikiran saya melayang pada kehidupan kuliah hampir delapan tahun lalu.

kawan-kawan saya di jurusan komunikasi 2002 mungkin akan lebih ingat waktu-waktu yang kami habiskan di bawah pohon kepel ketimbang isi mata kuliah manajemen media massa, penulisan berita (yang hanya diikuti kurang dari sepuluh orang), juga etika komunikasi .

saya bertaruh lebih banyak yang ngantuk.

saya hanya semangat mengikuti psikologi komunikasi, sosiologi jender, jurnalisme televisi, sinematografi, komunikasi sosial, pokoknya mata kuliah yang saya bisa bebas menulis sembarangkalir.

secara akademik, tidak ada mata kuliah yang spesifik mengajari bagaimana harus bertahan di era konvergensi media, apalagi bagaimana tetap membuat sebuah karya jurnalistik yang bukan semata sebuah produk.

dan di sinilah saya. di era ketika informasi adalah uang. bahkan ucapan busuk politisi pun bisa dibingkai jadi informasi senilai uang.

media massa saat ini adalah news corporation, dan saya adalah tukang buat berita.

saya harus bisa menulis, memotret, merekam gambar, sampai mengedit.

informasi yang saya dapat harus bisa berguna untuk media cetak, elektronik, hingga online.

bahasa kerennya saya jurnalis serbabisa.

satu kawan saya bilang, ini tantangan.

satu kawan lagi bilang, ini working abuse.

sedangkan saya, kehilangan pegangan.

anggap saya naif. tapi buat saya tulisan adalah sebuah karya, bukan sekadar produk yang bisa muncul di berbagai media yang membuat nama saya melambung, menjadi deret-deret angka yang menunjukkan saya jurnalis produktif.

tidak ada uang yang bisa menggantikan kepuasan menemukan orangorang biasa dengan cerita luar biasa, sama halnya tidak ada uang yang cukup untuk menggantikan -meminjam istilah kawan saya- akarakar sosial yang tercerabut selama dalam tugas.

tapi era baru ini tidak bisa dilawan. semua media menuju ke sana, menjadi yang paling cepat dan inovatif, muaranya tentu saja branding dan keuntungan.

saya tidak tahu akan berada di mana saat semua benar-benar nyata.

tapi, saya berharap siapapun yang masih bertahan di dalamnya masih tetap menulis dengan ‘bernyawa’.

saya jadi teringat Isabel Allende, jurnalis berkebangsaan Chile yang akhirnya menjadi novelis.

dalam tugas jurnalistiknya, Allende berkesempatan mewawancarai Pablo Neruda, penyair mashyur Chile.

apa yang dikatakan Neruda? “imajinasimu terlalu liar untuk seorang jurnalis, kau seharusnya menjadi novelis”

itulah yang akhirnya dilakukan Allende dengan menulis buku pertamanya, House of Spirits, buku yang menemani saya juga berkhayal setiap malam.

saya teringat diri saya dan beberapa kawan lain yang saya percaya memiliki imajinasi tanpa batas.

akankah kami di sana, membebaskan imajinasi itu di lembar-lembar penuh cerita, atau tetap menyusun informasi digital yang bagi mereka hanyalah angka-angka?